Salah satu faktor penyebabnya adalah predator alami ulat bulu yang telah semakin berkurang.
Beberapa minggu terakhir, muncul ribuan ulat bulu yang membuat warga masyarakat resah.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi langsung bergerak untuk membasmi ulat bulu tersebut.
Dilansir dari Radar Banyuwangi, Drh. Risa Isna Fahziar yang merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) cabang Jawa Timur IV, menjelaskan munculnya serangan ulat bulu ini karena terdapat beberapa faktor.
Salah satunya adalah semakin sedikitnya predator alami ulat bulu.
“Kalau ulat bulu memang akan selalu ada. Hanya, keseimbangannya seperti apa,” ujar Risa
Ulat bulu biasanya menjadi santapan alami burung pada rantai makanan, namun akhir-akhir ini predator tersebut semakin berkurang.
“Kita lihat predator alami sudah semakin berkurang di alam. Kalau dulu, di lingkungan kita pasti sering mendengar ada kicauan burung prenjak, hingga burung cendet, sekarang tidak lagi,” ungkapnya.
Banyaknya perburuan liar terhadap burung membuat populasi pada burung semakin berkurang, apalgi burung tidak termasuk ke dalam hewan yang dilindungi keberadaannya.
“Dengan ini, masyarakat mungkin bisa sadar jika burung-burung itu tidak ada di alam, salah satu dampaknya akan seperti ini,” tambahnya
Menurutnya, masalah keberadaan ulat bulu tidak pernah menjadi sumber masalah bagi kesehatan hewan lainnya.
“Untuk hewan lain saya rasa tidak ada. Kasus seperti LSD (Lumpy Skin Disease) murni karena virus,” pungkas Ria.