RADAR JOGJA - Sebuah video kontroversial yang menampilkan seorang perempuan berkerudung hitam yang membuat jokes petani sedang menanam padi telah menjadi viral di platform media sosial.
Video ini diunggah di akun Instagram @viralsekali yang dikutip pada Senin (29/1), dan cepat menarik perhatian netizen yang merespons dengan beragam komentar.
Dalam video berdurasi singkat tersebut, perempuan berkerudung hitam terlihat meledek petani dengan memberikan lelucon yang menyatakan bahwa petani tidak akan pernah maju.
Sambil memperlihatkan lanskap seorang petani yang sedang bekerja di sawah, perempuan tersebut memicu kontroversi dengan pernyataannya yang dianggap merendahkan profesi petani.
Caption yang menyertai unggahan video tersebut berbunyi, "Jangan dihujat mbaknya, ada benernya sih. Yang tanam padi maju sudah terlanjur soliddd."
Baca Juga: Banjir Usai Konser Coldplay di Singapura Berakhir dengan Penonton Nyeker di Tengah Air Terjun!
Pernyataan tersebut semakin menambah ketegangan di antara netizen yang merasa tersinggung dengan konten video tersebut dan yang mencoba memahami pesan yang dimaksud.
Kontroversi semakin berkembang ketika beberapa netizen memberikan tanggapan mereka di kolom komentar.
Seorang pengguna dengan username @ekoangga25 menulis, "Aku sebagai anak petani merasa tersinggung, tolong hargai petani. Karena petani kalian bisa makan nasi." Komentar ini mencerminkan rasa tidak puas dan kekecewaan dari pihak yang merasa dihina dalam video tersebut.
Sementara itu, netizen dengan username @jeeellyfishhh mengomentari, "Iya memang kalau petani nanam padi jalannya mundur... adminnya butuh edukasi ini kayaknya."
Pengguna @budihrjn23 juga memberikan pandangannya dengan menulis, "Yang gak nyampe jokesnya berarti lagi ada masalah berat."
Kontroversi ini membuka ruang diskusi di antara netizen tentang batasan humor dan tanggung jawab sosial di media sosial.
Sementara beberapa mendukung kebebasan berekspresi, yang lain menekankan perlunya mempertimbangkan dampak potensial dari unggahan konten yang dapat merendahkan atau memicu ketidaknyamanan di kalangan masyarakat.
Editor : Bahana.