JOGJA - Carok masih terjadi di Madura, Jawa Timur. Beberapa waktu lalu, carok terjadi di Bangkalan di mana ada empat korban meninggal dunia.
Berdasarkan Jurnal Intelektiva edisi November 2021, masyarakat Madura memegang teguh peribahasa katembheng pote mata ango’a poteya tolang.
Makan pribahasa tersebut yakni daripada menanggung malu, lebih baik berkalang di tanah.
Masyarakat Madura pun memiliki rasa untuk mempertahankan harga diri yang tinggi.
Tradisi carok dianggap sebagai salah satu upaya dalam menyelesaikan suatu perkara yang menyangkut harkat dan martabat.
Baca Juga: Kopi Darat KBC Kamajaya Jadi Ajang Pengembangan Almamater Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY)
Dalam bahasa Kawi Kuno, carok memilik arti "perkelahian”.
Pada praktiknya, carok melibatkan perseorangan, kelompok, maupun keluarga.
Penyebab terjadinya carok biasanya dikarenakan perebutan takhta di keraton, perselingkuhan, hingga sengketa tanah.
Meski demikian, istilah carok belum muncul pada abad 12 Masehi.
Di mana, waktu itu merupakan masa kekuasaan Kerajaan Madura yang dipimpin oleh Prabu Cakraningrat.
Bahkan, hingga pada abad 17 M di mana masa pemerintahan Penembahan Semolo.
Istilah carok mulai muncul ketika masa kolonial Belanda sekitar abad 17 M.
Sejarah carok dikaitkan dengan senjata berupa celurit. Pada masa itu, Belanda menduduki Nusantara. Termasuk, Pulau Madura.
Ada banyak peristiwa kekerasan yang diterima masyarakat Madura.
Setidaknya, ketika kongsi dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menginjakan kaki di Madura untuk pertama kalinya.
VOC merupakan perusahaan dagang Belanda.
Sejarah carok dapat diketahui melalui cerita rakyat Madura yang berkembang.
Awalnya, carok dimulai ketika terjadinya perkelahian antara Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang.
Sakera merupakan mandor tebu di pabrik gula milik Belanda dengan Brodin.
Baca Juga: Jelang Bergulir Kompetisi, PSS Sleman Gelar Uji Coba Kontra PS HW UMY, Berikut Hasilnya
Sedangkan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang merupakan antek-antek kolonial Belanda.
Carik Kembang diperintahkan kolonial Belanda untuk mencarikan lahan untuk ekspansi pabrik gula.
Carik Kembang pun melakukan teror kepada pemilik tanah guna mendapatkan tanah dengan harga murah.
Sakera membela masyarakat kecil yang diteror tersebut.
Sakera melakukan berbagai hal untuk menggagalkan usaha Carik Rembang.
Akhirnya, Carik Rembang melaporkan Sakera kepada kolonial Belanda.
Baca Juga: Polisi Gandeng Komunitas dan Pelajar, Dukung Zero Knalpot Brong di Kota Magelang
Dianggap mengganggu kepentingannya, kolonial Belanda ingin membunuh Sakera. Mereka menyuruh seorang jagoan bernama Markasan.
Markasan lantas menemui Sakera pada waktu istirahat di pabrik tebu untuk adu kekuatan.
Tapi, kolonial Belanda sudah mencari tahu kelemahan Sakera. Itu diperoleh dari teman seperguruan Sakera.
Sakera pun berhasil dilumpuhkan oleh pihak Belanda. Lalu, dihukum gantung.