RADAR JOGJA – Bulan Desember menjadi peristiwa kelam Tsunami Aceh. Tepatnya pada tanggal 26 Desember 19 tahun yang lalu terjadi bencana Tsunami Aceh tahun 2004.
Untuk mengenang bencana tersebut, banyak orang-orang yang datang ke Museum Tsunami Aceh, entah untuk mengetahui informasi bencana tersebut ataupun untuk mendoakan para korban Tsunami.
Museum Tsunami Aceh dibangun untuk memberikan berbagai informasi terkait Tsunami Aceh tahun 2004, dan juga daftar-daftar korbannya.
Museum Tsunami Aceh ini dibangun di Jalan Sultan Iskandar Muda no.3, Gampongn Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, pada tahun 2008. Atau 4 tahun setelah bencana tsunami tersebut.
Letak museum ini tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Yakni, dapat ditempuh 11 menit jika jalan kaki, dan 1 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.
Museum ini juga bersebelahan dengan kompleks Makan Belanda (Kerkhof).
Museum ini diketahui merupakan hasil rancangan dari mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.
Sebelum membangun museum ini, terdapat sayembara tingkat internasional pada tahun 2007 untuk membuat desain Museum Tsunami Aceh ini.
Pada sayembara tingkat internasional tersebut, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang memenangkannya.
Untuk masuk ke museum ini, cukup membayar tiket masuk sebesar Rp3.000/orang untuk anak-anak, pelajar, dan mahasiswa/i.
Sedangkan untuk umum dan orang dewasa, sebesar Rp 5.000, dan untuk turis mancanegara sebesar Rp 15.000. Museum ini buka hari Senin-Kamis dan Sabtu-Minggu dari Pukul 09.00-16.00 WIB.
Isi di dalam Museum Aceh
Pada saat pertama masuk ke dalam museum, pengunjung akan disambut oleh Lorong tsunami Aceh yang memiliki pencahayaan yang minim.
Pada kanan kiri di lorong tersebut terdapat air yang berlinang. Selain itu juga terdapat air yang mengucur dari atas ke bawah hingga bisa mengenai para pengunjung, dan membuat para pengunjung berlarian untuk menghindarinya.
Hal tersebut merupakan gambaran nyata seperti yang terjadi pada korban-korban Tsunami Aceh, yang juga berlarian menghindari dan menyelamatkan diri dari terjangan air.
Pada ruangan kedua, berisi tentang dampak-dampak tsunami Aceh bagi wilayah-wilayah yang terkena terjangan air laut tersebut.
Berisi foto-foto dan video nyata saat terjadinya tsunami Aceh.
Pada ruangan ketiga, berisi tentang kebangkitan Kota Aceh dan warga Aceh pasca bencana tsunami.
Berisi berbagai foto dan video pembangunan berbagai fasilitas ataupun tempat tinggal.
Pada ruangan keempat, merupakan ruangan yang cukup emosional, karena pada ruangan ini berisi nama-nama dari para korban tsunami Aceh, sehingga ruangan keempat ini diberi nama ruangan peringatan.
Nama-nama korban tersebut ditulis didalam sebuah ruangan yang dibentuk seperti sumur, yang disebut dengan sumur doa.
Terdapat juga lorong kebingungan yang berisi 99 Asmaul Husna. Dinamakan lorong kebingungan karena memberikan makna bahwa, di setiap kebingungan yang terjadi, Allah pasti senantiasa akan selalu membantu.
Ada juga sebuah jembatan yang pada bagian atapnya dihiasi oleh bendera dari berbagai negara yang telah membantu Aceh dari bencana Tsunami.
Negara-negara tersebut yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, Republik Ceko, Swedia, Finlandia, Rusia, Malaysia, Singapura, Jepang, dan lain-lain.
(Anistigfar/Radar Jogja)
Baca Juga: Kantor Imigrasi Yogyakarta Gelar FGD Kehumasan Sekaligus Refleksi Akhir Tahun
Editor : Meitika Candra Lantiva