RADAR JOGJA - Pneumonia adalah suatu infeksi peradangan pada paru-paru, yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.
Infeksi ini dapat mengenai satu atau kedua paru-paru dan seringkali menyebabkan gejala seperti demam, batuk dan lendir berlebihan, sesak nafas, nyeri dada dan kelemahan umum.
Pneumonia dapat menyerang siapa saja termasuk balita hingga dewasa yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Seperti di Jawa Timur, dilansir dari cnnindonesia.com, Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat setidaknya ada 45.041 balita di Provinsi itu mengalami infeksi saluran pernapasan bawah akut atau pneumonia hampir sepanjang 2023 ini.
Tingginya angka kasus ini menyebabkan tiga balita di antaranya meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jawa Timur dr Erwin Astha Triyono mengatakan, jumlah itu digabung mulai dari periode Januari hingga September 2023.
“Sampai bulan September 2023 jumlahnya 45.041 balita atau 32,03 persen dari batas estimasi kasus pneumonia sebanyak 140.578 balita. Jumlah kematian di tahun ini ada tiga balita,” jelas Erwin.
Erwin mengungkapkan, penyakit pneumonia ini umumnya dipengaruhi sejumlah faktor lingkungan sekitar yang dapat menyebabkan penurunan imunitas terhadap bayi.
Faktor lingkungan itu dipengaruhi oleh polusi udara, kepadatan anggota keluarga dalam rumah, kebiasaan merokok dalam rumah, dan rumah yang kotor
“Untuk menghindarinya, jauhkan bayi dari penderita batuk, lakukan imunisasi lengkap, berikan ASI ekslusif sampai usia enam bulan, dan berikan makanan cukup gizi dan seimbang,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Erwin juga menjelaskan meski tercatat 45 ribu kasus, secara statistik angka itu lebih rendah dibandingkan tahun lalu sejauh ini.
“Tahun kemarin (2022) jumlahnya mencapai 92.118 balita dengan kematian 13 balita,” terangnya.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinkes Jawa Timur untuk mencegah penyakit pneumonia yang menjangkit balita tidak meluas.
Antara lain melakukan pertemuan tatalaksana kasus pneumonia bagi klinis dan pengelola program ISPA.
Selain itu juga melakukan validasi data secara online dengan pengelola program pengendalian (P2) ISPA dan membuat umpan balik kasus pneumonia kepada Kabupaten/Kota secara berkala.
“Lalu melakukan bimbingan teknis dan koordinasi dengan lintas program, promosi kesehatan terkait PHBS dengan seksi kesehatan, dan berkoordinasi dengan Penyehatan Lingkungan terkait rumah sehat,” ujar Erwin. (Redempta Erinita Yolanda/Radar Jogja)
Baca Juga: Alasan Selebgram Asal Semarang Bunuh lalu Buang Bayinya di Bandara Ngurah Rai
Editor : Meitika Candra Lantiva