Mudik 2026 Diprediksi Disesaki Jutaan Kendaraan, Peneliti UGM Ingatkan Bahaya Ini di Jalan
Fahmi Fahriza• Sabtu, 14 Maret 2026 | 16:57 WIB
Peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) Dwi Ardianta Kurniawan.
JOGJA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi pergerakan masyarakat selama periode mudik Lebaran 2026 mencapai 143,9 juta orang se-Indonesia.
Secara agregat, jumlah ini mengalami penurunan sekitar 1,7 persen dibanding tahun sebelumnya, namun tetap menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat saat momen Idul Fitri.
Puncak arus mudik diperkirakan terjadi dalam dua gelombang, yakni 14-15 Maret dan 18 Maret 2026, sedangkan puncak arus balik diprediksi akan berlangsung pada 24 Maret 2026.
Beberapa wilayah menjadi tujuan utama pemudik, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DIY.
Khusus untuk DIY, pemerintah daerah memperkirakan akan menerima sekitar 8,2 juta orang, baik pemudik maupun wisatawan yang memanfaatkan libur Lebaran untuk berkunjung ke Jogja dan sekitarnya.
Peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) Dwi Ardianta Kurniawan mengatakan, pemerintah telah mengoptimalkan berbagai infrastruktur transportasi untuk menghadapi musim mudik tahun ini.
Menurutnya, peningkatan kapasitas jalan arteri dan tol menjadi salah satu langkah strategis.
Selain itu, empat ruas tol fungsional baru di jaringan Trans-Jawa juga disiapkan untuk membantu mengurai kepadatan lalu lintas.
"Harapannya waktu tempuh perjalanan darat bisa dipangkas signifikan untuk mengakomodasi mobilitas para pemudik," kata Dwi Ardianta, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan, pembukaan jalur fungsional tersebut dirancang khusus untuk memecah kepadatan di titik-titik krusial atau bottleneck yang selama ini kerap menjadi sumber kemacetan saat arus mudik.
Selain peningkatan infrastruktur jalan, pemerintah juga memperkuat fasilitas pendukung perjalanan mudik.
Termasuk sekitar 6.859 masjid di sepanjang jalur mudik difungsikan sebagai rest area tambahan.
"Semua disiapkan agar bisa menjadi alternatif strategis bagi pemudik ketika rest area resmi di jalan tol mengalami penumpukan kendaraan. Selain itu, memastikan setiap pengemudi tetap punya ruang melepas penat dan beribadah dengan nyaman," jelasnya.
Lebih lanjut, Dwi Ardianta menegaskan, bahwa faktor keselamatan harus menjadi perhatian utama bagi para pemudik, terutama terkait analisis risiko dan manajemen kelelahan saat berkendara jarak jauh.
Ia mengingatkan bahwa microsleep menjadi salah satu penyebab utama seringnya terjadi kecelakaan bagi para pemudik.
"Berada di balik kemudi selama berjam-jam dapat menguras konsentrasi dan memperbesar risiko microsleep," ujarnya.
Karena itu, ia menyarankan para pengemudi untuk membuat pola istirahat yang terencana, seperti beristirahat minimal 15-30 menit setelah berkendara maksimal empat jam.
"Buat standar keselamatan berkendara dengan konsisten. Manfaatkan rest area tol atau ribuan masjid untuk meregangkan otot, minum air putih, dan memulihkan fokus sebelum melanjutkan perjalanan," pesannya.
Selain faktor kelelahan, ia juga menyoroti bahwa kesiapan teknis kendaraan juga menjadi syarat penting sebelum melakukan perjalanan jauh.
Pemeriksaan perlu dilakukan pada komponen vital kendaraan seperti kondisi ban, sistem pengereman, hingga cairan kendaraan seperti oli mesin, cairan radiator, dan minyak rem.
"Mengabaikan kesiapan teknis kendaraan sama halnya dengan membuka peluang besar terjadinya kecelakaan fatal di jalan raya," tegasnya.
Sementara itu, salah satu calon pemudik, Wisnu Pratama, dari Jogja yang berencana mudik ke Mojokerto, mengaku telah mulai mempersiapkan perjalanan sejak jauh hari.