Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ekonomi Syariah Butuh Intervensi Suplai, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu Sebut tanpa Merger Tak Akan Bisa Bersaing

Fahmi Fahriza • Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:23 WIB

Diskusi ekonomi syariah menghadirkan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu di Class C2-003 Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (28/2).
Diskusi ekonomi syariah menghadirkan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu di Class C2-003 Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (28/2).

 

 JOGJA - Perkembangan perbankan syariah di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi suplai dan permodalan. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Prof Dr Anggito Abimanyu menegaskan, penguatan bank syariah harus dilakukan melalui langkah strategis seperti merger agar mampu bersaing dengan bank konvensional.

Hal itu disampaikan dalam diskusi bertema "Ekonomi Syariah (Tidak) Efisien dan (Tidak) Sesuai Prinsip Syariah" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIk UGM), Sabtu (28/2). Diskusi dihadiri akademisi dan praktisi ekonomi.

 

Anggito menyebut, kontribusi bank syariah terhadap industri perbankan nasional terus meningkat, meski secara skala masih relatif kecil. "Selama ini kontribusi bank syariah itu baru lima persen dari industri. Sejak 2022 naik, sekarang sudah mencapai 9 persen. Idealnya mungkin masuk 20 persen supaya bank syariah itu bisa lebih berperan," ujarnya.

Menurutnya, salah satu persoalan utama bukan pada literasi masyarakat, melainkan pada keterbatasan suplai dan permodalan. "Literasi sudah cukup, sekitar 60 persen, tapi inklusinya baru 40 persen. Orang tahu tapi tidak bertransaksi. Kenapa? Karena suplainya kurang, e-banking belum kuat, pricing masih tinggi, jaringan belum luas," jelasnya.

Ia menuturkan, bank syariah tidak akan mampu berkembang pesat jika hanya mengandalkan mekanisme pasar semata. "Kalau hanya diserahkan kepada pasar, tidak akan bisa cepat naiknya. Harus ada intervensi suplai. Caranya merger. Itu langkah strategis," tegasnya.

 Ia mencontohkan, pembentukan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai hasil merger bank-bank syariah BUMN yang kini memiliki aset besar dan daya saing lebih kuat. Langkah serupa, menurutnya, perlu diperluas agar pangsa pasar syariah bisa menembus 20 persen.

 "Tidak mungkin 9 persen melawan 91 persen tanpa diperbesar dulu. Harus ada yang gede dulu supaya bisa memberikan perlawanan," katanya.

 Lebih lanjut Anggito juga menyoroti perubahan lanskap perbankan yang kini bertumpu pada digitalisasi. Menurutnya, investasi teknologi membutuhkan modal besar, sehingga bank syariah kecil akan sulit mengejar ketertinggalan.

"Sekarang bukan lagi ATM atau cabang fisik. Yang ngetren itu e-banking. Investasi e-banking itu besar sekali. Bank itu modal matters. Kalau modalnya kecil, sampai kapan pun tidak bisa ekspansi," ujarnya.

 Ia menambahkan dengan peningkatan suplai dan aset, biaya dana (cost of fund) akan semakin murah, sehingga produk pembiayaan syariah dapat lebih kompetitif.

Dalam paparannya, Anggito juga menyinggung aspek religiusitas sebagai fondasi ekonomi syariah. "Karena religiusitas, bagi umat Islam itu soal akidah, sesuatu yang tidak bisa ditawar. Kedua cara hidup yang baik, sehat, bersih. Ketiga, krisis bisa meningkatkan iman yang berdampak ekonomi," katanya.

Ia mengibaratkan penggunaan bank konvensional dalam kondisi tertentu seperti tayamum ketika air tidak tersedia. Namun, menurutnya, kini infrastruktur perbankan syariah semakin tersedia sehingga dorongan untuk beralih semakin kuat.

Di sisi lain, selain isu efisiensi, tantangan lain yang disorot adalah maraknya penipuan berkedok investasi syariah. Narasi investasi berkah dan untung tanpa riba kerap dimanfaatkan dalam skema proyek fiktif hingga pola Ponzi.

"Pentingnya literasi yang diikuti inklusi dan penguatan institusi agar masyarakat tidak terjebak," pesannya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jogja Prof Didi Achjari menyatakan, forum ini menjadi ajang memperkuat sinergi antara ISEI dan LPS dalam mendorong sistem ekonomi syariah yang inklusif dan inovatif.

Menurutnya, ekonomi syariah harus menjadi motor pertumbuhan baru nasional. Secara pribadi ia juga optimistis dengan visi tersebut.

"Ekonomi syariah harus jadi motor pertumbuhan baru bagi Indonesia. Ini instrumen vital untuk memperkuat posisi Indonesia di perekonomian internasional," ujarnya.

Diskusi yang dimoderatori Prof Dr Edy Suandi Hamid itu juga menjadi ruang refleksi atas kritik yang menyebut pembiayaan syariah lebih mahal. Anggito menegaskan, kondisi tersebut terjadi pada masa lalu.

"Dulu mungkin tidak efisien, ya benar. Tapi sekarang sudah jauh lebih efisien. Tinggal bagaimana kita memperbesar skala agar makin kompetitif," tutur alumni FEB UGM ini. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#literasi #Perbankan syariah #inovasi #kompetitif #akademisi #modal #Ekonomi