Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sultan HB X Imbau Dilakukan Evaluasi Menyeluruh di SPPG, Manajemen Produksi-Distribusi Dikritisi

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 00:50 WIB
Gubenur DIJ Hamengku Buwono X saat ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja, Jumat (17/10/2025).
Gubenur DIJ Hamengku Buwono X saat ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja, Jumat (17/10/2025).

JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono X memberikan tanggapan terulangnya kembali keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kali ini menimpa siswa SMAN 1 Jogja dan SMA Muhammadiyah 7 Jogja. Ia menilai, proses produksi menu MBG perlu dilakukan evaluasi menyeluruh.

"Saya kan sudah mengatakan, ya gimana kalau mau bikin 3.000 porsi (MBG) ya tidak bisa to," ujar HB X saat ditemui di Kompleks Kepatihan Jogja, Jumat (17/10/2025).

Ia kemudian lebih menyoroti manajemen produksi dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) secara umum. Gubernur menilai beban 3.000 porsi MBG yang menjadi tanggung jawab satu SPPG dirasa tidak efektif. Terlebih apabila sumber daya manusia (SDM) dalam satu SPPG sekaligus peralatan kurang memadahi.

"Nek biasane ming 50 terus 3.000, dengan dapur tradisional itu suruh masak 3.000, itu jam piro le arep tangi (kalau biasanya cuma buat 50 porsi, terus jadi 3.000 dengan dapur seadanya itu terus mau jam berapa pekerjanya bangun, Red)," katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti terkait penyimpanan bahan baku makanan, khususnya daging-dagingan. Manajemen waktu pembelian, penyimpanan, pengolahan hingga pendistribusian harus diperhatikan dengan seksama. "Daging sapi, daging ayam dan lainnya kalau dimasak besok, paling lambat sore belinya," paparnya.

Apabila tidak ada penyimpanan atau lemari pendingin yang efektif, bahan baku daging akan cepat membiru atau kualitasnya turun, bahkan membusuk. "Ha (kalau) digoreng, hayo mabok (keracunan)," ucapnya.

Pengetahuan itu, menurut HB X, harus dipahami oleh mereka yang berada di setiap dapur penyedia MBG. Namun apabila hal mendasar itu tidak dipahami, maka distribusi MBG selamanya tidak akan efektif. "Hambok sampai kapan pun yang keracunan masih ada," tandasnya.

Ia merasa proses di dapur SPPG perlu dievaluasi secara menyeluruh. Karena ia mengibaratkan, rumah makan atau jasa penyedia makanan yang biasa menyiapkan makanan juga akan kuwalahan ketika membuat olahan makanan dengan skala besar, terlebih dilakukan setiap hari. "Itu ndak akan mampu," tambahnya.

Ia sempat menyampaikan idealnya produksi MBG dengan manajemen jumlah masakan didukung dengan jumlah pekerja yang efektif. Misalnya, delapan orang pekerja dapur dalam satu kelompok dijatah membuat 50 porsi MBG. Apabila targetnya 3.000 porsi, tinggal dimanajemen dengan dibagi kelompoknya.

"Lha nek 3.000, dibagi berapa porsi gitu aja. Itu lebih logis ketimbang satu unit disuruh 3.000 porsi. Tidak akan bisa. Sing 50 (prosu) aja mungkin bangunnya sudah 04.30. Lha kalau 3.000 kan (harus bangun) malam. Terus suruh makan jam 10 (pagi) lha iya keracunan," tandasnya. (oso/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#kepatihan #Mbg #HB X #SMAN 1 Jogja #keracunan #SDM #gubernur diy #SPPG #manajemen