Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Fanani Meniti Hidup lewat Buku Lawas, dari Modal Rp 17 Ribu Hasil Jual Perhiasan Pemberian Ibu, Kini Jadi Lima Gudang Buku di Jogja

Cintia Yuliani • Rabu, 8 Oktober 2025 | 03:18 WIB

 

BUAH KETEKUNAN: Fanani sedang memegang buku lawas yang dijualnya Selasa (7/10/2025). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
BUAH KETEKUNAN: Fanani sedang memegang buku lawas yang dijualnya Selasa (7/10/2025). (Cintia Yuliani/Radar Jogja)
 

RADAR JOGJA - Fanani memang tak sempat lulus kuliah. Tapi dari tangan dan ketekunannya, ribuan buku bekas itu justru menghidupinya hingga menjadi pemilik toko Raja Murah yang melegenda di Jogjakarta.

 Bagi sebagian orang, buku lawas mungkin hanya tumpukan kertas usang yang baunya khas debu. Tapi bagi Fanani, 64, tumpukan itu adalah hidupnya sumber kebahagiaan. Sekaligus bukti dari perjalanan panjang yang dimulai sejak ia masih mahasiswa.

"Saya itu kan dari Lamongan. Ke Jogja niatnya kuliah, tapi ternyata saya nggak bakat sekolah," ujarnya saat ditemui di toko buku Gudang Raja Murah Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Selasa (7/10/2025).

Fanani sempat berkuliah di Jogja. Namun di tengah kesibukan belajar, ia justru lebih menikmati waktu bekerja. “Saya dari dulu tekun terhadap apa yang saya kerjakan,” katanya.

Dari ketekunan itu, lahirlah perjalanan panjang seorang penjual buku yang bertahan lebih dari empat dekade. Alasan ia memilih berjualan buku lawas, karena ia juga memiliki hobi membaca buku.

Semua dimulai pada 1982. Saat itu ia baru menikah dan mendapatkan sedikit perhiasan dari ibunya. “Itu saya jual, dapat 17 ribu. Nah, uang itu saya pakai buat order buku,” kenangnya.

Dari uang itu pula ia mulai berjualan buku di sela-sela kuliah. Tapi ketika waktu ujian tiba, Fanani justru dihadapkan pilihan: kuliah atau dagang. Ia memilih yang kedua.

“Ujian pas rame pembeli. Akhirnya saya pilih kerja. Karena saya tahu, minat saya memang di situ,” ucapnya.

Dengan ketekunan luar biasa, hanya dalam setahun ia bisa membeli rumah seharga Rp 8,1 juta modal awal kesuksesannya di dunia perbukuan.

Pada tahun-tahun berikutnya, ia semakin dikenal di kalangan pencinta buku. Dari kaki lima di kawasan Taman Pintar,  lalu membuka kios di Gejayan, Sleman.

“Awalnya kontrak 10 tahun, Rp 3 juta. Tapi setelah itu naik jadi Rp 50 juta per tahun. Saya pikir, ya sudah, saya nggak lanjut. Nggak mau terikat lagi,” ujarnya.

Fanani sempat menerbitkan beberapa buku sendiri lewat penerbitnya. Tapi kemudian ia sadar, dunia penerbitan tidak semanis yang terlihat.

Ia pun berbalik haluan menekuni buku lawas. Baginya, menjual buku lama jauh lebih bermakna. “Buku lawas itu pasarnya beda. Orang-orang datang karena cinta baca, bukan karena tren. Dan harganya terjangkau. Ada yang Rp 1.000, Rp 3.000, sampai Rp 50.000. Jadi siapa pun bisa beli buku,” tuturnya.

Ia percaya, lewat buku lawas, orang-orang tetap bisa belajar tanpa harus mengeluarkan banyak uang. “Kalau buku antik, ya ada juga yang mahal. Pernah dua buku saya jual Rp 10 juta. Tapi intinya bukan uang. Saya senang kalau pembeli itu ketawa, senang beli buku,” kata Fanani.

Kini, Fanani tak lagi sekadar pedagang buku kaki lima. Ia sudah punya lima gudang besar yang tersebar di Jogja: dua di Bantul, dua di Jalan Makam Pahlawan, dan satu di Jalan Veteran. Semua berisi ribuan judul buku dari majalah tua, komik jadul, sampai buku teks sekolah lawas maupun bekas yang masih layak pakai.

Fanani mempekerjakan 15 orang. Mereka membantu sortir, menata, hingga mengelola penjualan daring. “Saat pandemi Covid-19, semua hancur. Tapi kami tetap jalan karena memanfaaatkan penjualan online,” jelasnya.

Meski kini hidup berkecukupan, Fanani tetap sederhana. Setiap pagi selepas subuh, ia berangkat dari rumah menuju lima gudang. “Saya jam setengah tujuh sudah sampai sini. Bukan buat ngontrol, tapi ikut kerja. Saya senang,” katanya pelan.

Bagi Fanani, yang terpenting bukan berapa banyak uang yang didapat, melainkan bagaimana ia bisa terus menikmati hidup sesuai hobinya. “Saya kerja dari dulu sampai sekarang ini puncaknya kebahagiaan. Karena senang. Saya bahagia kalau orang beli buku sambil ketawa,” katanya.

Fanani pun menyoroti maraknya praktik pembajakan buku yang menurutnya merugikan banyak pihak. Ia menilai, pembajakan tidak hanya menghambat kerja penulis dan penerbit, tetapi juga mencederai semangat menghargai karya intelektual.

Ia berharap masyarakat kembali menumbuhkan budaya membaca sekaligus menghargai buku sebagai sumber pengetahuan. Menurutnya, buku tetap memiliki nilai dan makna, meskipun sudah berusia lama. Di antara rak-rak tinggi berisi ribuan koleksi lawasnya, Fanani meyakini minat baca akan terus hidup selama masih ada orang yang mencintai buku. (cin/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Mahasiswa #Kuliah #Buku Lawas #budaya membaca #pecinta buku