Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

GKR Bendara Hadiri Kenduri Banyu Udan di Ngaglik Sleman, Perayaan Upaya Atasi Krisis Air Tanah di Jogjakarta

Delima Purnamasari • Rabu, 10 September 2025 | 01:25 WIB

 

 

 

KEARIFAN LOKAL: Penari menampilkan Tari Riris Mangenjali dalam Kenduri Banyu Udan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa (9/9).
KEARIFAN LOKAL: Penari menampilkan Tari Riris Mangenjali dalam Kenduri Banyu Udan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Selasa (9/9).

SLEMAN - Kenduri banyu udan digelar di Joglo Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Selasa (9/9). Kegiatan ini jadi perayaan atas usaha untuk mengatasi krisis air tanah di Jogjakarta.

 

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara yang turut hadir menilai, prosesi ini sangat menarik. Lantaran mengangkat kearifan lokal yang sudah banyak dilupakan. "Jadi memanfaatkan air hujan tidak hanya untuk mengairi halaman, tapi bahkan untuk sampai diminum," terangnya di lokasi acara.

Dia juga turut mengapresiasi proses pengolahan air hujan ini. Lantaran bisa menghasilkan dua jenis air, yakni asam dan basa. Air basa untuk diminum, sementara asam untuk menyembuhkan luka.

 

"Ini cukup unik dan perlu diwartakan dengan banyaknya krisis air yang terjadi sekarang," tambah putri Raja Keraton Jogja Sultan Hamengku Bawono Ka 10 ini.

 

GKR Bendara menilai, situasi air tanah terutama di wilayah perkotaan sudah banyak pencemaran. Di samping itu, berbagai wilayah banyak yang mengalami kekeringan dan kekurangan air.

 

Namun di wilayah lain justru mengalami banjir. Kondisi ini bisa terjadi lantaran adanya ketidakseimbangan antara manusia dan alam. "Harapannya gerakan ini semakin banyak dan bisa membuat perubahan di Jogjakarta," pesannya.

 

Sementara itu, Pendiri Sekolah Air Hujan Sri Wahyuningsih menyebut, sistem pemanfaatan air hujan sudah banyak direplikasi oleh berbagai daerah di DIJ. Termasuk Gunungkidul. "Kami merevitalisasi tampungan-tampungan lama yang masih konvensional," katanya.

 

Revitalisasi ini digunakan dengan menggunakan teknologi sederhana agar proses penampungan air hujan bisa lebih higienis. Termasuk proses penyimpanannya tidak boleh menggunakan bak terbuka. Harus tertutup. "Ini bagian dari budaya dan kami bangga untuk jadi bagian yang nguri-uri," tambahnya. (del/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Kenduri Banyu Udan #Nguri-uri #teknologi #Gusti Kanjeng Ratu Bendara #keraton jogja #Jogjakarta