Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Panen Ribuan Ton, Bawang Merah Jadi Harapan Ekonomi Petani

Yusuf Bastiar • Rabu, 3 September 2025 | 03:45 WIB
KOMODITAS BARU: Petani di Gunungkidul memanen bawang merah belum lama ini. Hasilnya cukup menjanjikan.
KOMODITAS BARU: Petani di Gunungkidul memanen bawang merah belum lama ini. Hasilnya cukup menjanjikan.

 

GUNUNGKIDUL - Komoditas bawang merah di Kabupaten Gunungkidul menjanjikan. Itu terlihat dari hasil panen sepanjang bulan Agustus. Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mencatat, lahan seluas 110 hektare mampu menghasilkan 1.430 ton.   

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menyebut, bawang merah kini menjadi komoditas unggulan baru selain padi. Struktur tanah dan cuaca Gunungkidul dinilai cocok untuk tanaman ini.

Meski begitu, ia mengingatkan, budidaya bawang merah membutuhkan modal besar. Sehingga risikonya juga tinggi jika terjadi gagal panen.

”Produktivitas rata-rata mencapai 13 ton per hektare. Dengan harga stabil di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, petani mendapat keuntungan yang signifikan,” jelasnya saat dihubungi, Selasa (2/9).

Panen bawang merah dalam jumlah besar ini memberi harapan baru bagi petani Gunungkidul. Selain meningkatkan kesejahteraan, keberhasilan ini juga memperlihatkan kemampuan petani beradaptasi dengan perubahan iklim melalui inovasi.

”Panen ribuan ton bawang merah ini adalah bukti nyata bahwa Gunungkidul mampu menjadi lumbung hortikultura yang menjanjikan,” tambahnya.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Raharjo Yuwono menambahkan, tahun ini petani menghadapi tantangan kemarau basah. Kondisi tanah yang terlalu lembab bisa memicu serangan hama. “Untuk mengantisipasi, penyuluh pertanian terus melakukan pendampingan terkait pola tanam. Kami juga mendorong penggunaan varietas unggul agar hasil tetap optimal,” jelasnya.

Keberhasilan panen bawang merah tidak lepas dari kreativitas petani lokal. Di Padukuhan Dengok IV, Kalurahan Dengok, Kapanewon Playen, misalnya, lahan tadah hujan yang biasanya kosong di musim kemarau berhasil disulap menjadi lahan produktif. Dengan memanfaatkan sumur bor dan irigasi sederhana, petani menanam bawang merah dan memetik hasil yang menjanjikan.

“Ini bukan hanya soal panen, tapi juga soal inovasi. Kami ingin membuktikan bahwa musim kemarau bukan alasan untuk berhenti bertani,” kata Darminoto, salah satu petani. (bas/zam)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Gunungkidul #dinas pertanian #komoditas bawang merah