JOGJA - Soft launching buku berjudul JOKOWI's WHITE PAPER karya Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa di UC Cofee Shop, Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (18/8) sempat tertunda.
Lokasi awal yang sudah dipersiapkan di Ruang Nusantara Gedung University Club (UC) UGM, ternyata dibatalkan oleh pihak UGM.
Acara yang digagas Roy Suryo itu bertajuk Kado Tercantuk 80 Tahun Indonesia Merdeka dengan acara inti soft launching buku yang berisi rangkuman bukti-bukti terkait ijazah palsu Jokowi.
Dalam undangan yang dibagikan Roy Suryo pada Minggu (17/8) malam, dituliskan acara diselenggarakan di Ruang Nusantara, UC Hotel hari Senin (18/8) pukul 14.00-16.00.
Namun kemarin pukul 10.24, Roy Suryo kembali mengirimkan pemberitahuan bahwa acara dibatalkan sepihak oleh pengelola UC UGM.
"Kami sudah melakukan DP, bahkan izin sudah kami proses, ternyata mendadak tadi malam dapat info konon tempat ini didatangi aparat dan akhirnya dibatalkan dan uangnya dikembalikan," ujar pakar telematika dan eks Menpora Roy Suryo itu saat ditemui di Cofee Shop UC UGM, Senin (18/8).
Selanjutnya, ia dan beberapa tamu lain harus pindah ke lokasi yang dekat yakni Cofee Shop UC untuk tetap melanjutkan acara tersebut. Namun di sela acara, tepatnya saat sesi doa, terdapat insiden AC dan lampu di ruangan tersebut tiba-tiba mati.
"Karena kami dihalang-halangi untuk menggunakan ruang Nusantara di University Club atau UC UGM ini. Nah dan juga di tengah-tengah acara lampunya mati. AC-nya juga mati. Jadi, kami tidak suudzon. Tapi, ini contoh," bebernya.
Acara soft launching buku pun tetap dilanjutkan. Lebih dari lima petugas keamanan UGM menjaga di luar ruang acara. Kondisi di dalam ruangan cukup gelap dan sangat panas. Namun, acara tetap dilanjutkan dengan semangat.
"Alhamdulilah acara tetap terlaksana dan kami sudah berhasil soft launching buku ini," terangnya.
Banyak tokoh publik hadir dalam acara itu. Mulai Refly Harun, Said Didu dan mantan Kepala Staf TNI Angakatan Darat Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto dan tokoh penting lainnya.
Sambil memaparkan diskusi, keringat dan peluh menetes di dahi mereka. Banyak yang membuka jaket tak lama setelah AC mati.
Buku berjudul JOKOWI's WHITE PAPER dicetak dengan halaman sekitar 700 lembar. Buku itu terbagi sekitar 25 cluster karya ketiga alumnus UGM itu.
Buku itu mengulas berbagai kejanggalan status mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan almamater UGM. Mulai dari soal masa kuliah, skripsi, hingga ijazah yang didinilai fiktif alias palsu.
"Buku ini merangkum tentang dokumentasi dan data yang kami temukan dari tahun 2013 yang membuktikan 99,9 persen skripsinya (Jokowi) palsu," tandasnya.
Buku itu nantinya akan didistribusikan secara massal pada akhir Agustus nanti. Bahkan buku tersebut juga akan di didistribusikan di 25 negara serta akan didiskusikan di seluruh kampus di Indonesia.
"Cetakan pertama kemarin sudah ada yang mau support 5.000 eksemplar," jelasnya.
Terpisah, pihak UGM membenarkan terdapat pembatalan acara di UC Hotel tanggal 18 Agustus. UC Hotel UGM pun juga mengakui tidak memfasilitasi kegiatan yang diklaim bertajuk "Konferensi Pers Tokoh Nasional Hadiah Kemerdekaan RI ke-80" itu.
UGM memiliki dua alasan untuk mengambil keputusan ini, yaitu alasan yang bersifat prosedural dan politis.
"UGM memahami kegiatan ini bernuansa politis yang terkait erat dengan isu yang melibatkan Bapak Joko Widodo. UGM tidak melibatkan diri dalam isu tersebut, karena tidak terkait dengan UGM secara langsung," ujar Juru Bicara UGM Dr I Made Andi Arsana dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (18/8).
Menurutnya, tajuk acara yang akan digelar itu tidak sesuai dengan kaidah di unit usaha UGM sebagai lembaga pendidikan.
Secara kronologis, pihak pemasaran UGM menerima pemesanan ruang kegiatan dari seseorang yang mengaku bernama Aida pada 17 Agustus 2025.
Kemudian UC Hotel merespons secara profesional dengan melakukan tanya jawab terkait kebutuhan ruangan dan rincian kegiatan.
"Aida mengatakan acaranya pertemuan kecil untuk membahas acara besar yang mau diadakan di Jogja. Lebih lanjut ditambahkan bahwa Panitia Temu Kangen Silaturahmi Tokoh Jogja mau rapat kecil persiapan acara HUT Kemerdekaan," bebernya.
Aida juga mengatakan ke pemasaran UGM bahwa sebelum acara, ketua panitia yang bernama Pak Bangun (Bangun Sutoto) akan datang ke UC Hotel bersama UGM.
Pihak UGM yang dimaksud dikatakan adalah “Keamanan Internal UGM”. Namun hingga siaran pers dibuat, tidak pernah datang ke UC Hotel UGM untuk melakukan komunikasi atau konfirmasi lebih lanjut.
"UGM memandang acara ini bernuansa politis seperti yang sudah disebutkan di atas dan UGM tidak bersedia terlibat dan memfasilitasi acara tersebut," terangnya.
Selain itu, acara ini jelas berbeda dengan yang disampaikan di awal ketika melakukan pemesanan.
Secara prosedur ini merupakan kesalahan dan menjadi alasan administratif bagi UC UGM untuk melakukan penolakan/pembatalan.
UGM menegaskan siap mendukung keterbukaan dalam pertukaran gagasan dan berkomitmen untuk berkontribusi positif untuk mewujudkannya.
Di sisi lain, UGM bertanggungjawab untuk melakukan dan mendukung pertukaran gagasan yang sehat guna menjaga kondisi yang kohesif atau tenang di masyarakat.
"Bagi UGM, acara yang dimaksud di atas tidak menunjukkan keterbukaan dari awal dan berpotensi menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu, sehingga dengan ini UGM melakukan penolakan," tandas I Made Andi Arsana. (oso/laz)
Editor : Herpri Kartun