Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pembacaan Karya Sastra Emha Ainun Nadjib, Tokoh Berbagai Kalangan di Jogja Peringati Ambal Warsa Caknun 72 Tahun

Agung Dwi Prakoso • Senin, 26 Mei 2025 | 01:01 WIB
Politisi PKB Kota Jogja Solihul Hadi saat membacakan puisi Memecah Mengutuhkan karya Emha Ainun Nadjib di JEC, Minggu (25/5/2025). 
Politisi PKB Kota Jogja Solihul Hadi saat membacakan puisi Memecah Mengutuhkan karya Emha Ainun Nadjib di JEC, Minggu (25/5/2025). 

JOGJA - Sejumlah tokoh politik, akademisi hingga budayawan menggelar acara Membaca Karya Emha dan Doa : Ambal Warsa Cak Nun 72 tahun di Jogja Expo Center (JEC), Minggu (25/5/2025).

Selain memperingati hari ulang tahun Emha Ainun Nadjib ke 72, mereka juga bergantian membacakan karya-karya sastra dari Cak Nun.

"Tadi saya ikut membacakan puisi karya Cak Nun dengan judul Memecah Mengutuhkan," ujar Politisi PKB Kota Jogja Solihul Hadi, Minggu (25/5/2025).

Puisi tersebut lahir pada tahun 1987.

Ia sengaja memilih karya tersebut untuk dibacakan karena pesan moral yang tersirat dalam puisi tersebut mampu melintasi zaman dan relevan hingga saat ini.

"Menyikapi hiruk pikuk dunia politik, tentang bagaimana menjaga kestabilan jiwa dan nafsu agar tidak terjebak dalam hasrat dunia saja yang merugikan rakyta," tuturnya.

Gareng si pencuri ayam, lanjutnya, bisa dikurung tiga bulan.

Namun senapati minum samudera minyak malah tidur ongkang-ongkang.

Menurutnya kalimat tersebut sebuah satire yang merupakan potret hukum yang terjadi hari ini.

"Saya politisi, saya orang partai, namun kami juga harus menjaga norma dan hal baik yang harus dipertahankan dalam berpolitik," terangnya.

Sebagai wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Jogja, dirinya mengajak untuk menyisihkan sisi nafsu kemanusiaan dari proses politik yang dijalankan.

Pesan dalam puisi yang ia bacakan juga diharapkan bisa sampai pada para pemangku kebijakan agar dalam menentukan kebijakan berpihak pada rakyat dengan tidak menyengsarakannya.

Ia menilai sosok Cak Nun sebagai tokoh agamawan, budayawan yang kontroversial.

Cak Nun melalui ruang-ruang kajian seperti Maiyah mampu menghadirkan dialog-dialog ketuhanan yang menyentuh hati masyarakat secara luas bahkan para anak jalananan.

"Ia mampu menggandeng lintas sektoral dari berbagai macam profesi," katanya.

Cak Nun juga dinilai merupakan tokoh yang pemberani.

Jarang ada tokoh agamawan yang berani berbicara lantang mengkritisi apanyang menjadi keresahan rakyatnya.

Kedekatan Cak Nun dengan Gus Dur juga berpengaruh adanya nafas yang sama dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil.

"Cak Nun ini menjadi corong rakyat, dewan nya rakyat itu ya Cak Nun ini," jelasnya.

Ia berharap, di usia Cak Nun ke 72 selalu diberi kesehatan dan kesembuhan dan bisa kembali membersamai jemaah Maiyah serta rakyat Indonesia.

Cak Nun dinilai menghidupkan spirit kepada generasi mendatang agar tumbuh manusia yang mampu berpikir kritis dan bijaksana.

"Cak Nun suka dengan hal realistis dan faktual, bukan hanya yang penting bapak senang," jelasnya.

Ketua Komunitas Seniman dan Budayawan Yogyakarta Sigit Sugito menyampaikan kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap kontribusi besar Cak Nun.

Kontribusi tersebut diberbagai aspek yakni dalam dunia sastra, budaya, dan spiritualitas di Indonesia.

"Kami ingin menjadikan momentum ulang tahun Cak Nun ini sebagai ruang untuk merenungkan karya-karya beliau yang selalu aktual, menggugah kesadaran, dan sarat nilai kemanusiaan serta ketuhanan," ujarnya.

Beberapa penyair yang ikut membacakan karya Emha Ainun Nadjib antara lain, Mustofa W Hasyim, Hamdy Salad, Latif S Nugraha, Aning Ayu Kusumawati, dan Evi Idawati.

Dari kalangan Guru Besar ada Prof Baiquni, Prof Suminto A Sayuti, Prof Yudriayani, Prof Panut Mulyono, Prof Fathul Wahid, Prof Aprinus Salam, dan Prof Zuli Qodir.

Kemudian kalangan budayawan ada Robby Kusumaharta, Tazbir Abdullah, Risman Marah, Yati Pesek, Fajar Suharno, Yani Saptohoedojo, Arya Aryanto, dan Sri Surya Widati.

Terakhir yakni dari kalangan Ulama/Kyai ada Dr H Adzfar Ammar dan Kyai Mustafied. (oso)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Politisi PKB Kota Jogja #emha ainun nadjib #ulang tahun Emha Ainun Nadjib ke 72 #Pembacaan Karya Sastra #guru besar #Caknun #Budayawan #puisi karya Cak Nun #Jogja #penyair #karya sastra