Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dehastoisasi Mirip Kejadian Pascaera Herry Zudianto di Kota Jogja

Kusno S Utomo • Sabtu, 8 Maret 2025 | 13:35 WIB

 

 

Motif Geblek Renteng pada kain, khas Kulon Progo.
Motif Geblek Renteng pada kain, khas Kulon Progo.

JOGJA - Mirip dehastoisasi di Kulon Progo, peristiwa serupa pernah terjadi di lingkungan Pemkot Jogja. Tepatnya pascaera kepemimpinan Wali Kota Jogja Herry Zudianto atau HZ. Sebagai wali kota, HZ memimpin Kota Jogja  dua periode 2001-2006 dan 2006-2011.

 Selama 10 tahun, HZ menelurkan berbagai inovasi. Juga banyak kebijakan populis. Salah satunya seperti program Gerakan Sego Segawe. Kependekan dari Sepeda kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe.

“Sayangnya gerakan Sego Segawe tidak dilanjutkan oleh penerus HZ,” ujar Ketua Forum Pemantau Pakta Integritas (Forpi) Periode 2007-2011 Kota Jogja Zaki Sierrad Jumat (7/3). Forpi yang diketuai Zaki dilantik di masa HZ.

Kala itu merupakan implementasi dari kerja sama antara Pemkot Jogja dengan KPK jilid satu di era kepemimpinan Taufiequrachman Ruki. Anggota Forpi berasal dari unsur masyarakat, perguruan tinggi dan aktivis serta media.

Penerus HZ yang dimaksud Zaki adalah Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS). Semula HS menjabat wakil wali kota mendampingi HZ periode 2006-2011. Dalam banyak kesempatan HS mengklaim sebagai murid politik HZ. Namun dalam catatan Zaki, semasa menjadi wali kota tak ada satupun warisan program HZ yang diteruskan oleh HS.

“Justru sebaliknya, program HZ banyak yang dianulir. Tidak lagi dilanjutkan,” cerita mantan ketua Panwaslu Pilkada Kota Jogja ini.

Di samping Sego Segawe, setiap Jumat, Balai Kota Timoho steril dari kendaraan bermotor. Ini bertujuan mengurangi polusi udara. Mobil dan motor diparkir di luar balai kota. Sebagian karyawan pemkot memilih naik angkutan umum. HZ memberikan contoh datang ke balai kota naik sepeda kayuh. Dari rumahnya di bilangan Golo Umbulharjo, Jogja.

Program ini kemudian dihapus. Rute masuk kompleks balai kota yang semula dari arah timur ke barat juga diubah. Dibalik dari barat menjadi pintu masuk dan timur sebagai pintu keluar. Di awal kepemimpinan HS sempat menghadapi gelombang demo berbagai kelompok masyarakat. Aksi itu bertajuk “Jogja Ora Didol”.

Hasto Wardoyo yang menjabat wali kota Jogja sejak 20 Februari 2025 tak ingin kejadian tersebut terulang. Dia bertekad meneruskan hal-hal yang sudah baik dari para pemimpin pendahulunya. “Program Sego Segawe di masa Pak Herry Zudianto akan saya lanjutkan,” katanya di Balai Kota Timoho Jumat (7/3).

Begitu pula batik motif ceplok Segoro Amarto yang diluncurkan di era Haryadi Suyuti pada 2017 akan terus dipertahankan. Ceplok Segoro Amarto menjadi batik resmi Pemkot Jogja.

 Demikian pula dengan program Gandeng Gendong yang dikenalkan Wakil Wali Kota Periode 2017-2022 Heroe Poerwadi tidak akan diusik. “Gandeng Gendong program bagus, harus diteruskan. Hal-hal positif kami pertahannkan,” tegas Hasto.

Heroe pada Pilkada 27 November 2024 menjadi salah satu kompetitor Hasto sebagai calon wali kota. Selain itu, calon wali kota lainnya ada nama Afnan Hadikusumo. (inu/kus/laz)

 

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kota Jogja #hasto wardoyo #Kulon Progo #kepemimpinan #Jogja Ora Didol #Wali Kota Jogja #Pemkot Jogja #pascaera #Gerakan Sego Segawe #Dehastoisasi #Haryadi Suyuti #wali kota #Herry Zudianto