KULON PROGO - Upaya dehastoisasi sedang berlangsung di Kulon Progo. Ditandai beberapa karya era Hasto Wardoyo menjabat bupati periode 2011-2016 dan 2017-2019 mulai dipinggirkan. Di antaranya, motif Geblek Renteng tak lagi menjadi batik resmi kalangan ASN dan pelajar. Berbagai ornamen yang mencerminkan Geblek Renteng di sejumlah instansi pemkab dan kantor bupati juga dicopot.
Kemudian bakal direvisinya Perda Kulon Progo No. 5 Tahun 2014 tentang Kawasan tanpa Rokok (KTR). Terakhir ada rencana meninjau ulang AirKu (Air Kulon Progo) merek air mineral kemasan produk Perumda PDAM Tirta Binangun.
Menyadari realitas politik di Kulon Progo itu, Hasto Wardoyo yang sekarang menjabat wali kota Jogja tak ingin terprovokasi. Hasto berusaha berpikir positif. Dia balik mengingatkan pentingnya sebuah daerah seperti Kulon Progo memiliki penanda.
“Terutama yang punya nilai bukan materiil. Itu menjadi pembeda sekaligus kebanggaan daerah,” ingat Hasto saat ditemui di Balai Kota Timoho Jumat (7/3).
Mantan kepala BKKBN itu kemudian menyindir langkah yang sedang dilakukan Bupati Kulon Progo Agung Setyawan. Sebagai bupati baru, Hasto menegarai Agung menginginkan lahirnya penanda baru yang lebih baik. “Butuh aktualisasi kekinian,” sentilnya.
Kembali soal penanda daerah, Hasto menegaskan, membutuhkan filosofi mendalam. Bukan semata-mata dari sisi kebendaan semata. Hadirnya motif Geblek Renteng memenuhi unsur tersebut. Bukan tanpa alasan, Hasto memilih Geblek Renteng sebagai motif batik resmi Kabupaten Kulon Progo.
Dikatakan, geblek merupakan makanan khas warga di lereng Menoreh tersebut. Namun sekian tahun lamanya geblek tak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasto menemukan jalan saat geblek dikonversi menjadi motif batik.
Setelah ditetapkan sebagai batik resmi Kulon Progo, geblek renteng berhasil mengangkat perekonomian Kulon Progo. ASN, pegawai BUMD, karyawan swasta dan siswa sekolah memakai sebagai identitas daerah. Mereka yang akan memakai batik Geblek Renteng harus membeli di perajin batik lokal. Perekonomian berputar di kabupaten yang punya motto Binangun itu. “Uangnya tidak lari ke luar,” bebernya memberikan alasan.
Itu sangat berbeda bila Kulon Progo tidak menetapkan Geblek Renteng sebagai motif batik daerah. Ketika dibebaskan memakai batik, bisa-bisa membeli kain batiknya di Pasar Tanah Abang. Batik yang dibeli model printing yang berasal dari negara asing. Semasa menjabat bupati, motif Geblek Renteng telah didaftarkan sebagai hak kekayaaan atas intelektual (HAKI) ke Kementerian Hukum dan HAM. Statusnya menjadi batik khas Kulon Progo.
Sampai sekarang Hasto merasa bangga dengan batik Geblek Renteng. Meski sekarang terancam dipinggirkan dan hendak diganti batik motif lain seperti Gunungan Pare Anom, suami Dwikisworo Setyowireni tetap merasa optimistis. “Sesuatu yang diperangi (batik Geblek Renteng, Red) akan lebih kuat,” katanya.
Soal AirKu, Hasto mengatakan diluncurkannya produk air mineral kemasan itu karena dirinya ingin membangun kemandirian ekonomi. Ada ideologi yang kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri alias berdikari. Kulon Progo mampu menghadapi produk asing. “AirKu bukan sekadar mencari untung,” tegas ayah empat anak ini.
Anggota Komisi D DPRD DIY dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kulon Progo Fajar Gegana punya pendapat berbeda. Tak digunakannya lagi Geblek Renteng sebagai batik resmi Kulon Progo memiliki tedensi tertentu. “Ada motif dan tendensi politis,” sergah Fajar yang pernah menjadi wakil bupati Kulon Progo masa jabatan 2019-2022 ini.
Dia mencurigai Bupati Kulon Progo Agung Setyawan tengah menginginkan adanya perubahan. Salah satunya dengan mengubah imej batik Geblek Renteng yang selama ini cenderung identik dengan kepemimpinan Hasto.
Diakui, setiap kepemimpinan wajib dihormati dan dikritisi. Selera pemimpin mau tidak mau mempengaruhi kebijakan. Perubahan pasti akan terjadi. Itu yang sekarang tengah dilakukan Agung sebagai bupati.
Bila motif Gunungan Pare Anom sedang disiapkan sebagai pengganti Geblek Renteng, Fajar mewanti-wanti pentingnya sosialisasi. Bahkan dibutuhkan branding ulang. "Motif baru juga harus diminati masyarakat," pintanya.
Selain itu, motif batik yang baru juga harus mewakili kondisi Kulon Progo. Baik dari segi filosofi maupun manfaatnnya. Sebab, selama ini batik Geblek Renteng telah mengena di hati masyarakat sebagai identitas daerah. “Geblek Renteng telah menjadi bagian dari sejarah Kulon Progo. Jangan lantas dihilangkan begitu saja,” ungkap Fajar. (inu/gas/kus/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita