JOGJA - Musem Sonobudoyo Yogyakarta usung Wayang Sadat dan Batik dalam perhelatan Islamic Arts Biennale 2025 di Jeddah, Arab Saudi. Salah satu upaya pengenalan seni dan kebudayaan lokal serta peran Wali Songo dalam persebaran Islam di Nusantara di kancah internasional.
"Wayang Sadat adalah salah satu warisan budaya Islam di Nusantara yang sangat penting dan harus dikenalkan di kancah internasional," ujar Kepala Museum Sonobudoyo Jogja, Ery Sustiyadi saat dikonfirmasi, Minggu (26/1/2025).
Wayang Sadat merupakan wayang dengan tokoh-tokoh mengadopsi kisah Wali Songo sebagai salah satu media dakwah Islam di Nusantara. Dalam lakon atau cerita Wayang Sadat biasanya memuat ajaran-ajaran tauhid dalam bentuk tersirat seperti janturan, syair gerongan, cakepan suluk dan dialog.
"Alur cerita dalam Wayang Sadat umumnya berasal dari Babad Tanah Jawa dan kisah-kisah Wali Songo," bebernya.
Sesuai dengan tema pameran yakni “And All That Is In Between” maka Wayang Sadat dirasa tepat untuk diusung mewakili dari Indonesia, khususnya Museum Sonobudoyo, Jogja. Melalui tema tersebut, Islamic Arts Biennale 2025 mengeksplorasi proses keimanan dialami, diungkapkan, dan dirayakan melalui perasaan, pemikiran, dan penciptaan serta usaha memahami keajaiban dari apa yang telah diciptakan oleh Tuhan.
"Wayang sadat berfungsi untuk mencontohkan nilai-nilai yang dianut oleh ajaran Islam, terutama tauhid, melalui media pertunjukan, yang meliputi narasi, karakter, dan simbolisme," tuturnya.
Wali Songo adalah sekelompok pendakwah (mubaligh) yang dianggap mampu mengajarkan agama Islam di Nusantara pada masanya. Mereka aktif di berbagai daerah di Jawa, termasuk Surabaya, Gresik, Lamongan di Jawa Timur; Demak, Kudus, Muria di Jawa Tengah; dan Cirebon di Jawa Barat.
"Kesepuluh koleksi Wayang Sadat yang kami bawa terdiri dari sembilan tokoh Wali Songo, yakni Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Tembayat; serta satu buah gunungan," jelasnya.
Selain Wayang Sadat, Museum Sonobudoyo juga memamerkan beberapa macam batik di pameran tersebut. Menurutnya, batik mengandung keindahan simbolisme dalam setiap pola geometris. Total ada delapan koleksi batik Museum Sonobudoyo pola geometris yang dipamerkan.
"Jumlahnya delapan karena secara numerik angka delapan melambangkan ketidakterbatasan dan secara visual memiliki bentuk yang sangat simetris," ujarnya.
Alasan memilih pola ornamen geometris didasarkan karena pola tersebut sering digunakan untuk merefleksikan konsep spiritual dan metafisik, khususnya dalam seni Islam. Penerapan pola geometris pada batik sering digunakan sebagai bentuk ekspresi artistik yang sesuai dengan prinsip-prinsip estetika dan teologi Islam dan mengandung makna spiritual yang mendalam.
"Seperti Kain Batik Kawung, Kain Batik Nitik Kawung, Kain Batik Grompol, Kain Batik Nitik, Kain Batik Kohinur, dan Kain Batik Putri Piningit yang ditampilkan dalam pameran," tuturnya.
Menurutnya partisipasi dalam pameran merupakan momen berharga untuk mengenalkan kekayaan budaya jawa yang banyak mengandung nilai-nilai islam yang kuat.
"Kami berkomitmen untuk terus berdedikasi dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Jawa," jelasnya.
Pameran internasional Islamic Arts Biennale 2025 yang berlangsung 25 Januari-25 Mei 2025 di Terminal Haji Barat, Bandara Internasional King Abdulaziz, di Jeddah, Arab Saudi. Pameran tersebut menampilkan aneka ragam ekspresi dan bentuk artistik dalam peradaban Islam, baik dari masa lalu maupun masa kini yang mencakup artefak sejarah, dan karya seni kontemporer. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin