RADAR JOGJA - Dokter Tri Kusumo Bawono pernah diganjar berbagai penghargaan karena kiprahnya mendampingi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Terlebih dalam tugasnya sebagai kepala Puskesmas Gedongtengen. Sampai saat ini pun dia masih aktif mendampingi "mbak-mbak" Pasar Kembang yang terkenal sebagai “zona merah” Jogja.
Dokter Tri, begitu dia akrab disapa, memang cukup konsen terhadap penanggulangan HIV/AIDS. Dia juga memiliki komitmen untuk terus mendukung ODHA agar tetap semangat menghadapi penyakit yang menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh ini.
Berbagai upaya dilakukan agar ODHA bisa rutin datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Itu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan pengobatan dan pendampingan, sehingga tidak terlalu tersiksa dengan penyakitnya.
Saat ditemui Radar Jogja di kantornya Kamis (28/11/2024) lalu, ia mengaku melakukan berbagai upaya agar kasus HIV/AIDS di Kota bisa ditanggulangi. Minimal tidak bertambah atau semakin banyak orang yang tertular.
Diakui, menanggulangi HIV/AIDS bukan hal yang mudah. Apalagi adanya stigma negatif yang selalu melekat pada pengidap HIV/AIDS. Sehingga membuat para pengidapnya enggan bersosialisasi termasuk memeriksakan penyakitnya.
"Padahal kunci penanggulangan HIV/AIDS adalah dengan pendampingan agar mereka meminum obat seumur hidup,” ujar Tri.
Oleh karena itu, pendekatan yang berbeda terhadap pengidap HIV/AIDS perlu dilakukan. Sehingga mereka kemudian bisa lebih nyaman dan rutin untuk memeriksakan diri.
Hal itu yang diterapkan di Puskesmas Gedongtengen. Tenaga kesehatan yang tinggal di Pakualaman ini berhasil memberikan metode berbeda kepada para ODHA. Yakni melalui program Peradha atau Pelayanan Ramah ODHA.
Program itu sudah diterapkan oleh Puskemas Gedongtengen sejak 2016 lalu. Melalui program ini, kasus-kasus HIV/AIDS dapat dideteksi dan diberikan penanganan tepat.
Perjalanan mendampingi para ODHA di wilayah Gedongtengen, diakui Tri, bukan hal yang mudah. Sebab, pada awalnya banyak sekali penolakan dari kalangan tuna susila untuk dilakukan tes HIV.
Tak mau menyerah, Tri mendatangi tempat mangkal mereka di losmen-losmen Gang Sosrowijayan. Pendekatan berbeda pun dilakukan agar mereka tidak enggan untuk periksa. Baik itu kepada wanita yang bekerja sebagai PSK maupun pria yang menjadi waria.
Dikatakan Tri, kunci pendampingan para tuna susila itu adalah dengan tidak merendahkan martabat mereka sebagai manusia. Sehingga para PSK dan waria pun nyaman untuk menyampaikan keluhannya atau datang untuk pemeriksaan.
Bahkan dalam beberapa kegiatan sosialisasi puskesmas dia berusaha agar bisa “sama” dengan para PSK maupun waria. Misalnya dengan menggunakan bahasa-bahasa vulgar khas mereka, atau berusaha menjadi teman cerita sehingga membuat mereka lebih nyaman.
"Khusus pelayanan di puskesmas, kami pastikan tidak ada perbedaan pelayanan antara ODHA dengan pasien lain,” tegas Tri. (inu/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita