Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ternyata Kemiskinan Mempengaruhi Kesuksesan Finansial Anak di Masa Depan

Iwa Ikhwanudin • Rabu, 13 November 2024 | 18:47 WIB
Ilustrasi kawasan miskin dan kumuh.  (pinterest)
Ilustrasi kawasan miskin dan kumuh. (pinterest)

RADAR JOGJA - Lahir dalam keadaan miskin adalah nasib dan bukan kesalahan, tapi mati dalam keadaan miskin itu adalah kesalahan.

Kalimat ini pernah diungkapkan oleh Jack Ma atau Bill Getas.

Pintar tidaklah cukup menjadi penentu kesuksesan seorang anak, tapi juga kaya dan miskin suatu keluarga menjadi faktor penentu.

Anak yang terlahir bodoh di keluarga kaya lebih beruntung daripada anak pintar yang lahir dari keluarga miskin.

Sebuah penelitian di Amerika mengungkapkan bahwa probabilitas anak pintar dari keluarga miskin untuk meraih kesuksesan finansial hanya memiliki peluang 31%.

Peluang ini lebih rendah dari probabilitas anak bodoh dari keluarga kaya yang mencapai 71%.

Dapat dilihat bahwa peluang sukses finansial anak bodoh dari keluarga kaya lebih tinggi dari pada anak pintar dari keluarga miskin.

Keluarga kaya dapat memfasilitasi kebutuhan anaknya dengan baik, seperti kebutuhan pendidikan sampai perguruan tinggi.

Berbanding terbalik dengan keluarga miskin yang cenderung kesulitan untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan anaknya.

Jenjang pendidikan seseorang dapat menjadi penentu kesuksesan finansial, karena rata-rata penghasilan lulusan S1 selalu jauh lebih tinggi daripada penghasilan lulusan SMK/SMA.

Anak-anak pintar yang lahir dalam keluarga miskin tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka sehingga berhenti di lulus SMA/SMK dan hanya mendapatkan pekerjaan yang memiliki gaji relatif lebih rendah.

Penghasilan mereka tidak akan mengalami perubahan atau kenaikan, hal ini akan berlangsung dalam jangka panjang.

Selanjutnya, apabila mempunyai anak kesulitan akan terjadi kembali.

Akhirnya kemiskinan ini akan menjadi siklus yang menjadi makin muram.

Hal ini seperti lingkaran setan, di mana kemiskinan terjadi secara turun-temurun.

Kemiskinan dapat dilihat dan dipahami dari perspektif struktural dan perspektif kultural.

Perspektif struktural atau kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disengaja atau kemiskinan itu terjadi karena sistem, masyarakatnya terjebak dalam sistem yang membuat mereka tidak dapat meningkatkan taraf perekonomian.

Perspektif Kultural atau kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang didasari oleh keputusan individu.

Keputusan untuk merubah keadaan finansial, dengan semangat kerja yang tinggi sebagai perwujudan dari kultur dapat mengangkat posisi seseorang menjadi lebih baik, kualitas hidup meningkat, dan menghindarkan diri dari kemiskinan.

(Marina Juliana; Berbagai Sumber)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kesuksesan #kemiskinan #masa depan #Struktural #finansial