RADAR JOGJA - Program magang yang dilakukan mahasiswa di luar SKS kampus, memiliki beberapa keuntungan. Baik untuk pihak perusahaan atau instansi maupun mahasiswa sendiri. Di antaranya, mahasiswa yang magang dapat membantu mengerjakan tugas-tugas tertentu, sehingga meringankan beban kerja karyawan tetap. Di sisi lain, mahasiswa sering membawa perspektif baru dan ide-ide kreatif yang bisa bermanfaat bagi perusahaan atau instansi.
Manajer Operasional Little Tokyo Hotel Yohanes Hendra mengatakan, hotelnya menerima magang mandiri yang diajukan mahasiswa atau bahkan siswa dengan rekomendasi dari kampus atau instansi pendidikannya. Magang mandiri dapat diikuti oleh siswa jurusan apapun. Dalam menggelar program magang on the job training (OJT), pihaknya bekerjasama dengan Disnakertrans Bantul atau Balai Latihan Kerja (BLK)-BPVP Bantul. “Kami menerima permintaan magang dari siswa sekitar Februari-April setiap tahunnya,” ujarnya Minggu (13/10/2024).
Hendra menjelaskan, alur proses magang adalah calon peserta mengajukan permohonan magang ke Little Tokyo Hotel. Lalu pihak manajemen hotel mendiskusikan kebutuhan dan menyeleksi calon peserta dengan mewawancarai calon peserta dan kampus, terkait SKS atau mata kuliah yang telah didapat. Kemudian pihak hotel akan merancang kurikulum atau modul pembelajaran untuk peserta magang itu. “Kalau magang OJT timeline-nya menyesuaikan dengan timeline BLK,” jelasnya.
Ia memaparkan, peserta magang rata-rata menjalani waktu magang sekitar enam bulan. Little Tokyo Hotel sendiri memiliki dua orang yang telah mengantongi sertifikat metodologi, sehingga dapat membuat modul pembelajaran bagi peserta magang. “Kami hanya menerima peserta magang maksimal 20 persen dari total karyawan Little Tokyo yang mencapai 30 orang,” katanya.
Hendra menuturkan, perbedaan antara mahasiswa magang resmi dari kampus dengan yang mandiri terletak pada kurikulum atau modul yang diberikan. Untuk peserta magang mandiri diberikan kurikulum sesuai dengan yang belum pernah ditempuhnya dan waktu akan disesuaikan dengan permintaan peserta. Sementara untuk OJT akan mengikuti modul yang sudah ada dan waktu yang telah ditentukan BLK.
“Magang mandiri mendapat uang makan dalam bentuk makan siang atau makan malam sesuai shift. Sementara OJT mendapat uang saku Rp 1 juta per bulan,” ungkapnya.
Para peserta magang pun ditempatkan di berbagai unit. Menurut Hendra, magang di perhotelan tidak harus dari jurusan pariwisata. Ia mengakui, sebelumnya ada siswa SMK jurusan kayu yang magang di berbagai unit. Lalu direkrut menjadi housekeeping usai magang. “Itu karena kinerja dan keinginan untuk berkembang dari anak magang,” ucapnya.
Sementara untuk magang OJT ditempatkan di unit yang telah ditentukan dalam modul. Mayoritas peserta magang berasal dari berbagai jurusan. “Program magang tidak spesifik jurusan tertentu. OJT juga tidak spesifik jurusan tertentu,” tandas Hendra. (tyo/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita