JOGJA - Belakangan kasus bunuh diri (bundir) relatif banyak terjadi di DIY. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat terdapat 52 kasus bundir selama 2024 atau Januari-Oktober.
Kepala Dinkes DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, data itu ia peroleh terakhir Kamis (10/10/2024). Kasus bundir tahun ini paling banyak terjadi di Gunungkidul. Soal jumlah ia belum menyampaikan pasti.
"Kebanyakan di sana karena faktor ekonomi dan penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh," ujarnya saat dikonfirmasi Kamis (10/10/2024).
Mayoritas orang yang bundir di Gunungkidul berusia di atas 50 tahun. Selain itu, Kabupaten Sleman menduduki posisi kedua. Usia orang bundir di daerah ini juga lebih bervariatif.
"Masalah ekonomi atau konflik, tapi kadang juga ada pemuda yang kepribadiannya introvert, penyakit kronis dan pinjol (pinjaman online)," jelasnya.
Ia ikut prihatin dengan fenomena tersebut. Ditanya penyebab bundir berkaitan dengan judi online, pihaknya mengatakan belum ada. Di Sleman sendiri rentang umur orang bundir yakni 20-60 tahun.
"Data kami paling banyak di Gunungkidul, disusul Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Kota Jogja," tuturnya.
Dinkes DIY telah melakukan berbagai upaya, termasuk edukasi dan sosialisasi ke masyarakat. Dinkes juga mempunyai kader khusus untuk melakukan pendampingan orang dengan gangguan jiwa setelah pulang dari rumah sakit atau camp sosial.
"Kalau kader sudah dilatih, obat rutin harus ditambah dengan kesiapan masyarakat dan keluarga," bebernya.
Pihaknya juga menekankan kepada masyarakat untuk saling menjaga. Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa menerima dan ikut memberikan dukungan kepada orang dengan gangguan jiwa.
"Artinya para tokoh masyarakat, pemuka agama ayo bareng-bareng pelan-pelan menurunkan stigma negatif itu," ujarnya.
Selain di masyarakat, Dinkes DIY juga bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di DIY untuk melakukan seminar dan sosialisasi kesehatan mental. Setiap kampus mempunyai program kampus sehat.
Dinkes DIJ melalui RSJ Grhasia Jogjakarta di Pakem juga mempunyai desa binaan yakni desa siaga sehat jiwa. Screening juga dilakhkan di setiap event dinkes melalui program pojok skrining kesehatan jiwa.
"Ini yang kami kuatkan bahwa orang pergi memeriksakan jiwa, tidak mesti mereka sakit jiwa. Justru karena dia ingin sehat jiwanya," tegasnya.
Kemudian terdapat tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat (TPKJM) mulai tingkat kecamatan hingga provinsi. Tim melibatkan beberapa sektor, baik Dinkes, DP3AP2 dan sebagainya. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita