RADAR JOGJA - Kantin kejujuran di sekolah dan kampus merupakan salah satu langkah konkret dalam menanamkan nilai kejujuran pada siswa dan mahasiswa. Sistem transaksi sederhana dinilai mampu mendidik generasi muda untuk bertanggung jawab dan jujur.
“Kantin kejujuran itu konsepnya simpel, tapi punya dampak besar," kata dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Ruly Ningsih.
Siswa atau mahasiswa bisa mengambil makanan atau minuman sendiri dan membayar sesuai harga yang tertera, tanpa ada penjaga. "Ini melatih mereka untuk bertindak jujur meskipun tidak ada yang mengawasi,” ucapnya.
Namun untuk memastikan sistem berjalan dengan baik, tetap diperlukan pengawasan minimal. Meski mengandalkan kejujuran, perlu ada monitoring sederhana. "Seperti CCTV atau petugas yang mengecek secara berkala," ucapnya.
Hal itu penting demi menjaga kepercayaan dan memastikan semua pembeli mematuhi aturan. Dalam praktiknya, siswa dan mahasiswa cenderung mudah beradaptasi dengan sistem ini. Terutama jika informasi mengenai harga dan cara pembayaran disampaikan dengan jelas.
“Sekarang selain menyediakan kotak pembayaran tunai, lebih baik juga disediakan QR code untuk pembayaran digital. Lebih mudah karena banyak yang sudah beralih ke e-wallet,” ucapnya.
Terkait efektivitas, kantin kejujuran dinilai sangat membantu dalam menanamkan nilai kejujuran. Selama konsisten diterapkan, bisa jadi sarana melatih integritas siswa dan mahasiswa. "Namun tetap butuh pengawasan minimal agar berjalan lancar," jelasnya.
Meski begitu, tantangan terbesar kantin kejujuran adalah menjaga integritas pembeli. Jika terlalu banyak yang tidak membayar sesuai harga, bisa berdampak buruk pada keberlanjutan kantin ini.
"Pengawasan diperlukan, tapi tidak perlu berlebihan. Selain itu penting untuk terus mengampanyekan pentingnya kejujuran dan tanggung jawab kepada siswa,” ungkapnya.
Berdasarkan survei di kalangan mahasiswa, kantin kejujuran masih diminati. Dari 16 mahasiswa yang disurvei, semua menyatakan kantin ini tetap relevan. Guna menjaga minat, dosen menyarankan mahasiswa ikut dilibatkan dalam pengelolaan kantin, sehingga rasa tanggung jawab lebih tinggi. “Kantin kejujuran bisa menjadi bagian dari gerakan antikorupsi," ujarnya.
Baca Juga: Cabang Olahraga Bulutangkis DIY Catatkan Sejarah, Raih Medali Perunggu di PON setelah 39 Tahun
Namun untuk memperluas dampaknya, perlu kajian lebih lanjut. Pendidikan integritas harus diterapkan secara berkelanjutan dan konsisten.
Keberadaan kantin kejujuran tak hanya berdampak pada perilaku jujur, tapi juga mendorong rasa tanggung jawab dan kepercayaan siswa dalam hal-hal lain. "Kalau sudah terbiasa jujur dalam hal kecil seperti ini, mereka akan lebih mungkin bertanggung jawab di berbagai aspek kehidupan," terangnya. (gun/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita