Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenalkan Digitalisasi, Tim UPNVY Ajarkan Digital Storytelling Untuk Pemasaran Kelompok Pembatik di Bantul

Fahmi Fahriza • Rabu, 18 September 2024 | 04:50 WIB
TURUN LAPANGAN: Tim UPNVY saat membantu para pembatik di kelompok perajin batik Nitik Blawong 1 Bantul.
TURUN LAPANGAN: Tim UPNVY saat membantu para pembatik di kelompok perajin batik Nitik Blawong 1 Bantul.

BANTUL - Kelompok perajin batik Nitik Blawong 1 Bantul mulai memiliki strategi baru dalam memasarkan produk mereka. Sebab, mereka baru mendapat pendampingan pemasaran berbasis digital storytelling. Oleh tim pengabdian kepada masyarakat UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY). 

Ketua tim pengabdian Agung Prabowo menyampaikan, strategi pemasaran berbasis digital storytelling memadukan nilai historis dan budaya yang melekat pada batik Nitik. "Pendekatan ini membuat batik Nitik tidak hanya dipandang sebagai produk, tapi juga bagian dari cerita budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini," katanya Selasa (17/9/2024).

Disebutkan, pendekatan digital tersebut dilakukan dengan tujuan membuat kelompok perajin batik Nitik Blawong lebih produktif secara ekonomi. "Dengan digital storytelling, mereka bisa menarik konsumen secara lebih luas juga," paparnya.

Agung menilai, batik Nitik Blawong tersebut sejatinya sudah punya keunikan. Yakni terletak pada pola titik-titik yang dihasilkan memakai canting khusus dengan ujung berbentuk persegi. Sebuah teknik yang membutuhkan waktu pengerjaan cukup lama. 

"Untuk motif sederhana, pengerjaan bisa sampai satu bulan, lalu untuk motif yang lebih kompleks, bisa lebih dari dua bulan," paparnya.

 Baca Juga: Tim Panahan DIY Rebut Emas Keempat, Berlomba di Bawah Guyuran Hujan, Tetap Berjaya di PON XXI Aceh-Sumut 2024

Sementara itu, ketua kelompok perajin batik Nitik Blawong Puji Hariyati menjelaskan, batik Nitik telah menjadi bagian dari sejarah panjang Jogja. Bahkan, sejak masa penjajahan Belanda ketika kain tenun patola dari India dimonopoli oleh Belanda. 

Kondisi tersebut, kata Puji, akhirnya mendorong para bangsawan lokal untuk menciptakan motif serupa menggunakan teknik batik. Meskipun batik ini memiliki nilai estetika dan sejarah yang tinggi, namun diakuinya pemasarannya tidak mudah. “Saat ini dilakukan secara offline dari rumah produksi dan pameran, serta online melalui Instagram dan WhatsApp," sebutnya.

Namun kendalanya, keterbatasan sumber daya manusia hingga aksesibilatas penggunaaan jaringan internet. "Kami sudah coba live di medsos, tapi belum dapat hasil yang memuaskan," keluhnya.

 Baca Juga: Meminta Audiensi karena Usulan Tidak Direspons, Warga Bong Suwung Datangi Kantor DPRD Kota Jogja

Dengan digital storytelling, lanjutnya, batik tidak saja jadi produk fisik. Tapi bagian dari sejarah dan budaya yang bisa membangun koneksi emosional dengan konsumen.

Puji sendiri berharap, dengan strategi tersebut bisa meningkatkan daya tarik produk di pasar lokal dan global. 

Lalu, anggota tim pengabdian UPNVY Oliver Samuel Simanjuntak menambahkan, pihaknya juga memberi rekomendasi soal penggunaan katalog yang lebih baik. Pun dengan peningkatan kualitas pemasaran melalui platform media sosial.

 Baca Juga: Sopir Fortuner yang Tabrak Dua Lansia hingga Meninggal di JJLS Belum Punya SIM tapi Tak Ditahan, Ini Kata Polisi

Nantinya, kelompok perajin batik Nitik Blawong akan mengadakan workshop pada 22 September 2024 di Goa Permoni. Diikuti oleh karang taruna dan perajin Batik Nitik. "Workshop ini untuk memperkuat keterampilan membatik, sekaligus memperdalam pemahaman tentang pemasaran digital," lontarnya.

Oliver percaya, dengan inovasi pemasaran berbasis digital storytelling dan peningkatan kualitas produk akan berdampak bagi pelaku usaha. Tidak hanya sebagai pelestari budaya, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi kreatif yang kompetitif. (iza/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#perajin batik Nitik Blawong 1 Bantul #UPNY #pembatik #pemasaran produk #Online #Digital Storytelling