Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lestarikan Tradisi Khotmil Quran di Kabupaten Purworejo, Wujud Syukur, Dikirab Naiki Kuda Jingkrak Keliling Desa

Jihan Aron Vahera • Senin, 16 September 2024 | 02:01 WIB
MERIAH: Suasana arak-arakan para pengkhatam Alquran di Desa Pucangagung, Bayan, Purworejo, Minggu (15/9/2024).
MERIAH: Suasana arak-arakan para pengkhatam Alquran di Desa Pucangagung, Bayan, Purworejo, Minggu (15/9/2024).

 

 

Sudah menjadi tradisi di sebagian wilayah di Purworejo, para pengkhatam Alquran dikirab menaiki kuda jingkrak keliling desa. Sebagai wujud rasa syukur.

Kegiatan tersebut menjadi perhatian dan tontonan menarik bagi masyarakat Kabupaten Purworejo.Salah satunya di Desa Pucangagung, Bayan, Purworejo. Sebanyak 37 anak usia 10 hingga 12 tahun di desa tersebut telah mengkhatamkan Alquran, Minggu (15/9/2024). Mereka diarak keliling desa sebagai wujud rasa syukur.

Pengasuh Masjid Al-Amin Muhammad Nailul Muna atau Gus Muna menyampaikan, kegiatan tersebut sudah menjadi tradisi dan rutin diselenggarakan setiap tahun. Yakni, sengaja dilaksanakan sat Maulud sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW."Para santri kami arak, tujuannya untuk membangkitkan semangat anak-anak lain dalam belajar Alquran," ungkapnya.

Dengan begitu, diharapkan generasi muda turut melestarikan budaya dan mencetak generasi Islami berjiwa Qurani. Puluhan anak tersebut tampak semringah dengan balutan busana karnaval. Mereka telah menyelesaikan bacaan kitab suci Alquran sebanyak 30 juz dan diwisuda dengan cara yang meriah.Baca Juga: Buka Gelar Desa Wisata Jateng 2024 di Purworejo, Disporpar: Desa Wisata Hampir Sama, Harus Gali Keunikannya

Bahkan, kegiatan tersebut menyedot perhatian warga sekitar untuk menyaksikan kemeriahan itu. Mereka keliling kurang lebih 20 kilometer. Selama perjalanan masing-masing diiringi oleh grup rebana. Bahkan ada yang menyewa grub drum band. Setiap di lokasi kerumunan warga, sesekali kuda yang ditunggangi peserta melakukan atraksi dengan mengangkat kedua kakinya ke atas. Aktivitas tersebut biasa disebut jingkrak.

Salah satu peserta Mayya Hidayatul Nikmah mengaku sangat senang karena sudah berhasil khatam bacaan Quran sebanyak 30 juz. Meski sempat takut menaiki kuda jingkrak, lama kelamaan dia menikmati atraksi kuda jingkrak itu. "Sudah latihan dulu, jadi tidak takut. Saya Alhamdulillah sudah khatam dua tahun lalu. Ikut kirab tahun ini," ujarnya.

Siapa sangka, untuk menyewa kuda jingkrak, make up, sewa musik rebana, makanan, dan sebagainya, para orang tua santri harus merogoh kocek cukup dalam. Untuk menyewa kuda saja sudah Rp 3 juta, itupun harus pesan dari jauh-jauh hari.

Hal tersebut menjadi berkah tersendiri bagi pemilik kuda. Seorang penuntun kuda Bombom dari Desa Seren, Bayan, Purworejo membenarkan jika untuk menyewa kuda harus pesan jauh-jauh hari. "Kalau tidak biasanya dapat kuda yang tidak bagus. Karena biasanya, suka kuda yang besar tinggi," terang dia.

Bombom menambahkan, untuk maulud tahun ini kuda-kudanya sudah full booked. Untuk harga, rata-rata dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. "Kami selalu jaga stamina dan kesehatan kuda, setiap kuda kami beri lima butir telur bebek yang diberikan dua hari menjelang atraksi," tandas dia. (han/din)

 

Editor : Din Miftahudin
#kuda jingkrak #Tardisi Nusantara #Khotmil Alquran #Purworejo