SLEMAN - Jumlah orang dengan disabilitas psikososial (ODDP) berat di Sleman menunjukkan peningkatan. Kondisi ini berdampak pada angka bunuh diri yang juga ikut meningkat.
Berdasarkan catatan dari Dinas Kesehatan Sleman yang dihimpun dari 25 puskesmas, pada 2023 ada 2.912 ODDP. Sementara pada 2024 ini, dari Januari hingga 11 September lalu sudah ada 2.924 orang.
"ODDP berat ini yakni mereka yang masuk skizofrenia dan gangguan psikotik," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman Esti Kurniasih.
Esti menjelaskan, tren gangguan mental ini akhirnya juga berdampak pada angka bunuh diri di Sleman. Apabila 2023 ada 21 kasus, pada 2024 dari Januari-September ini telah ada 11 kejadian. "Bunuh diri ini didominasi usia produktif. Empat di antaranya adalah mahasiswa tingkat awal," tambah Esti.
Dia menjelaskan, sebenarnya Dinas Kesehatan Sleman telah memberikan beragam program pencegahan dan penanganan. Salah satunya menyediakan alat skrining berupa Heart Rate Variability (HRV). "Untuk mendeteksi status kesehatan jiwa individu dan tingkat kebugarannya," ujarnya.
Alat ini sudah tersedia di empat puskesmas. Yakni Puskesmas Gamping 1, Godean 1, Depok 3, dan Ngaglik 2. Ke depan, Esti menargetkan seluruh puskesmas bisa memiliki alat ini.
"Pada setiap puskesmas di Sleman juga sudah ada psikolog klinis. Bahkan ada yang satu puskesmas dua psikolog. Tarifnya terjangkau," tambahnya.
Baca Juga: Persaingan Ketat, 2.580 Pelamar Berebut 89 Formasi CPNS 2024 di Gunungkidul
Esti mengaku, kerja sama dengan beragam yayasan yang bergerak di bidang kesehatan mental pun telah dilakukan. Selain itu, dengan berbagai universitas di Sleman untuk membentuk Kampus Sehat jiwa. Sementara di masyarakat, diadakan program Desa Sehat Jiwa. "Meski sudah disiapkan, masyarakat belum banyak yang mengakses. Ini karena masih ada stigma pada penyakit gangguan jiwa," keluh Esti.
Sementara itu, Psikolog Klinis Puskesmas Depok II Swastika Ayu Normalasari berpesan akan pentingnya dukungan pada orang yang rentan secara mental. "Jangan justru diberi stigma lemah. Setiap manusia pasti punya masalah dan cara mengontrolnya berbeda-beda," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita