Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sesar Mataram Masih Jadi Bahan Diskusi, Tim Peneliti UGM Terus Lakukan Riset

Fahmi Fahriza • Senin, 27 Mei 2024 | 15:30 WIB

 

Dr Gayatri Indah Marliyani, (Dosen dan peneliti geologi gempa bumi, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM)
Dr Gayatri Indah Marliyani, (Dosen dan peneliti geologi gempa bumi, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM)

 

 

RADAR JOGJA - Dosen dan peneliti geologi gempa bumi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Dr Gayatri Indah Marliyani ST, MSc  menyebut, gempa bumi di sesar darat pada 2006 silam sudah menjadi bukti mutlak adanya sesar aktif di Jogjakarta yaitu sistem Sesar Opak.

Ia menjelaskan, dari hasil monitoring kegempaan, sepanjang Sesar Opak juga menunjukkan aktivitas dari sesar itu. Selain dampak dari Sesar Opak, DIJ juga dekat dengan zona subduksi selatan Jawa yang sering menimbulkan gempa bumi dan bisa dirasakan oleh warga DIJ. "Sehingga memang wilayah DIJ rawan terhadap bencana gempa, baik dari zona sesar darat maupun dari zona subduksi," katanya kemarin (26/5).

Selain Sesar Opak, salah satu sesar yang belakangan diteliti dan menjadi perbincangan cukup masif adalah Sesar Mataram. Ia mengungkapkan, istilah Sesar Mataram sejatinya muncul dari hasil kajian BRIN yakni terkait proyek pembangunan jalan tol Jogja-Solo untuk mempelajari keberadaan sesar aktif di Jogjakarta.

 "Data yang dipakai BRIN itu data geolistrik dan topografi. Dari interpretasinya, ada struktur geologi berarah barat-timur memanjang searah Selokan Mataram, sehingga dinamakan Sesar Mataram," terang dosen yang juga menjabat kepala Laboratorium Geologi Dinamik, DTGL FT UGM ini.

 Gayatri mengakui keberadaan Sesar Mataram sendiri dianggap aktif oleh BRIN. Ia menyebut suatu sesar dikatakan aktif jika memiliki beberapa indikator.  Antara lain, ada gempa bumi baik skala besar maupun kecil di sepanjang sesar itu.

Selain itu ada deformasi yang berumur muda, yakni kurang dari 11 ribu tahun lalu, yang dapat dideteksi dari analisis umur sedimen atau batuan yang terpotong oleh sesar.

Ia menambahkan, juga ada pergerakan yang saat ini bisa dideteksi misalnya dengan data GPS atau citra satelit. Sehingga walau terdapat geometri berupa sesar di bawah permukaan, belum tentu sesar tersebut aktif.

 "Dari pantauan Stasiun Geofisika BMKG Jogjakarta sejak 2009-2024, tidak ada kegempaan yang terdeteksi di sepanjang jalur Sesar Mataram. Apakah sesar itu memotong batuan yang berumur holosen atau 11 ribu tahun lalu, juga belum terkonfirmasi," tandasnya.

Dikatakan, untuk pendeteksian pergerakan melalui GPS saat ini juga belum terkonfirmasi. Kini masih dalam proses pemantauan oleh tim dari Teknik Geodesi UGM.

Baca Juga: Profesor Teknik Mesin UGM Ciptakan Pesawat tanpa Awak, Bisa untuk Pemantauan Bencana

Menurut Gayatri, kajian terkait keberadaan struktur geologi yang dicurigai aktif di kawasan Sesar Mataram, sebenarnya baik untuk meningkatkan kewaspadaan terkait ancaman gempa bumi di Jogja. Akan tetapi juga perlu disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

 "Proses penelitian Sesar Mataram masih berjalan. Belum konklusif, karena masih menjadi objek diskusi antarpeneliti," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, sejak awal 2023 para peneliti gempa bumi UGM membentuk tim ahli dosen dan peneliti. Mereka berasal dari teknik geologi, teknik geodesi, dan geofisika MIPA untuk bersama-sama melakukan kajian pada Sesar Mataram.

Proses pengambilan dan analisis data terkait Sesar Mataram diakui masih berlangsung hingga saat ini. Sejauh ini hasil yang diperoleh dari data, juga masih cukup terbatas. "Risetnya masih berjalan dan kami belum berani menyatakan Sesar Mataram adalah sesar aktif," bebernya.

Ia menegaskan gempa bumi tidak bisa dicegah, tekanan tektonik gempa jauh lebih besar skalanya dari tenaga apapun yang diciptakan oleh manusia.  Selain itu, tekanan tektonik tidak bisa dimodifikasi.

Yang bisa dilakukan, lanjutnya, hanya mengurangi dampak kejadian gempa yang terjadi. Ini agar kerugian yang ditimbulkan bisa diminimalisasi. "Kita tinggal di wilayah tektonik aktif, sehingga rawan gempa bumi. Maka harus terus ditingkatkan pada berbagai level usia dan pendidikan," tambahnya. (iza/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#sesar mataram #sesar opak #gempa jogja