RADAR JOGJA - Childfun International turut ambil bagian dalam pemenuhan hak dan peningkatan potensi anak-anak di DI Yogyakarta. Terutama di Kabupaten Kulonprogo dan Bantul.
Di Kulonprogo, misalnya, lembaga yang hadir di Indonesia sejak 1973 itu bekerja sama dengan Paguyuban Badan Musyawarah Masyarakat Mitra Anak Sejati (PBMM-Mas) mengembangkan program LineUp Digital Literacy for All.
Tujuannya meningkatkan keterampilan literasi dan numerisasi anak dengan memanfaatkan teknologi. Sasarannya seluruh siswa di 10 sekolah dasar di Bumi Binangun.
”Program ini melatih lebih dari 500 siswa dan 50 guru cara menggunakan tablet, berinternet aman, perlindungan anak online, kurikulum merdeka, dan pemanfaatan platform online untuk pembelajaran,” jelas Program Manager PBMM-MAS Bertho Eko Pitono Minggu (28/4).
Guna program ini berjalan maksimal, Childfund International merenovasi ruang multimedia sekolah. Juga menyediakan gawai seperti tablet. Menurutnya, program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan siswa dan guru.
Lebih dari itu, juga meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan terkait. Seperti pengawas sekolah, orangtua, komite sekolah, dinas pendidikan, hingga masyarakat luas.
”Tentang pendidikan anak yang berbasis teknologi informasi,” ujarnya.
Merujuk Laporan Siswa Internasional (PISA) pada 2018, nilai rata-rata siswa Indonesia terendah di antara negara-negara lain. Nilai rata-rata membaca, contohnya, 371. Berikutnya nilai rata-rata matematika 379, dan nilai rata-rata sains 396. Karena itu, Bertho berpendapat program ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan anak. Termasuk di DIY.
Selain siswa dan orangtua, Childfund International juga punya program lain di Kulonprogo. Yakni menjadikan anak muda sebagai agen perubahan.
Menurutnya, PBMM-MAS bersama Childfund International membina kelompok anak muda dan forum anak. Baik di tingkat kalurahan dan kabupaten. Ini menuai respons positif.
Itu ditunjukkan dengan partisipasi anak dan anak muda perlahan mendapat perhatian dari pemangku kepentingan. Pada 2021, misalnya, PBMM-MAS ditunjuk sebagai lembaga pendamping Kulon Progo dalam mewujudkan kabupaten layak anak (KLA). PBMM-MAS juga aktif terlibat dalam advokasi untuk memperjuangkan hak-hak anak di Kulon Progo.
”Sehingga terbit Perda Nomor 15 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan KLA. Kami membawa wacana KLA di Kulon Progo sejak 2010,” paparnya.
Di Kabupaten Bantul, Childfun International bekerja sama dengan Yayasan Teratai Putih (YTP) Yogyakata. Koordinator YTP Aan Kurniawan mengungkapkan, program yang diinisiasi adalah perlindungan anak terpadu berbasis masyatakat (PATBM) serta pendidikan anak usia dini.
Program ini dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap kasus kekerasan yang kerap dialami anak maupun remaja di lingkungan.
Secara teknis, kata Aan, YTP membentuk sekaligus membina kelompok masyarakat sebagai tim PATBM. Masyarakat dapat merujuk dan menginformasikan perihal kasus-kasus kekerasan anak melalui tim ini.
”Agar kasus-kasus itu dapat segera tertangani oleh pihak terkait secara profesional,” katanya.
Seiring waktu berjalan, gagasan ini menuai respons positif dari pemerintah kalurahan (pemkal). Beberapa pemkal memprakarsai pembentukan peraturan kalurahan tentang perlindungan anak. Sehingga berbagai upaya PATBM memiliki payung hukum di tingkat kalurahan.
Aan menceritakan, kondisi PAUD di Bumi Projotamansari pada 2008 memprihatinkan. PAUD belum tersedia di semua dusun. Karena itu, YTP kemudian menginisiasi pendirian 24 PAUD di empat kalurahan.
Selain dukungan pembangunan infrastruktur, YTP juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
”Sehingga PAUD dapat berlanjut hingga sekarang. Total ada sekitar delapan ribu orang yang terdampak program ini,” sebutnya.
Country Director Childfund International di Indonesia Husnul Ma’ad mengungkapkan, upaya organisasinya berpusat pada menghubungkan anak-anak dengan komunitas, institusi dan sumber daya manusia.
Itu untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat, terdidik, terampil, dan aman. Baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun di ranah daring.
”Keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras seluruh mitra, komunitas, pemerintah, donor, sponsor, dan pemangku kepentingan,” katanya. (zam)
Editor : Satria Pradika