RADAR JOGJA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mendadak jadi sorotan.
Dalam sebuah rapat kerja bersama dengan Komisi VI DPR RI Senin (1/4/2024) lalu, ia spontan menyebut bahwa Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif adalah kader PDI Perjuangan.
Hal itu bermula ketika Bahlil menerangkan tentang dugaan adanya penyelewengan terkait pencabutan dan pemulihan izin usaha pertambangan (IUP) yang dituduhkan dirinya.
Bahlil pun mengatakan bahwa usulan pencabutan sebanyak 2.078 IUP itu bukan ditentukan oleh Satgas Penataan Penggunaan Lahan dan Investasi, melainkan hasil dari verifikasi dan identifikasi yang dilakukan oleh kementerian teknis, yakni, Kementerian ESDM.
“2.078 (IUP) adalah betul-betul hasil verifikasi identifikasi yang dilakukan Menteri ESDM yang notabenenya kader PDIP. Bisa dicek itu, kalau itu salah saya siap berhenti jadi menteri,” katanya dalam rapat tersebut.
Pernyataan Bahlil tersebut menimbulkan sedikit kegaduhan bahkan memantik reaksi Anggota DPR RI.
Pernyataan Bahlil yang menohok langsung dibantah Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Sitorus.
"Nggk saya kira pak menteri (Arifin Tasrif, Red) bukan kader PDIP pak. Cabut (perkataan, Red) itu. Karena kalau soal kader nanti bu Sri mulyani dibilang kader, pak Basuki juga dibilang kader," sahut Deddy Sitorus.
Mendengar jawaban tersebut Bahlil pun sedikit gugup dan meminta maaf.
"Oh, salah ya, saya kira begitu. Kalau begitu saya mohon maaf. Dengan menyebut bismillahirrahmanirrahim, saya cabut kata-kata saya,” jawab Bahlil.
Lebih lanjut dikatakan jika dirinya akan fair dan siap mempertanggungjawabkan bilamana melakukan kesalahan. Dan tidak setuju jika informasi yang salah kemudian justru dikembangkan.
"Kalau saya salah saya akan pertanggungjawabkan itu. Saya fair. Tapi saya juga tidak setuju kalau informasi yang salah kemudian kita kembangkan," katanya.
Sekali lagi ia menegaskan, terkait dugaan penyelewengan yang dilakukan dirinya. Namun dia menegaskan, dirinya bukanlah seorang pengangguran sebelum menjadi menteri.
"Perusahaan Meta, PT Meta itu pemiliknya betul PT bersama bapak Unggul dan saya beli itu tahun 2012. Sebelum saya jadi menteri saya bukan pengangguran," ujarnya.
Editor : Meitika Candra Lantiva