Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kontroversi, Film Kiblat Membuka Rantai Kritik dari Netizen hingga Tokoh Agama

Caswati Radar Jogja • Kamis, 28 Maret 2024 | 02:19 WIB
Ilustrasi poster film Kiblat. (Istimewa)
Ilustrasi poster film Kiblat. (Istimewa)

RADAR JOGJA – Baru-baru ini, dunia hiburan di Indonesia dikejutkan dengan rilis trailer dan poster dari film Kiblat.

Namun, apa yang seharusnya menjadi momen penantian para penggemar justru berubah menjadi badai kritik yang membelah netizen dan tokoh agama.


Dibintangi oleh Ria Ricis, Hana Saraswati, Arbani Yasiz, Yasmin Napper, dan Dennis Adhiswara, film Kiblat dipandang oleh sebagian besar netizen dan tokoh agama sebagai sebuah karya yang mempermainkan makna ibadah sholat. Hal yang amat sakral dalam ajaran Islam.

Mereka menuding bahwa film ini justru memanfaatkan ritual keagamaan tersebut sebagai bahan untuk menciptakan atmosfer horor.

Yang justru bisa memicu rasa takut dan ketidaknyamanan pada saat melaksanakan ibadah yang seharusnya penuh ketenangan dan khidmat.


Tak pelak, kritikan pedas juga disampaikan oleh dua tokoh agama terkemuka, yakni KH Cholil Nafis dan Ustad Hilmi Firdausi, yang mengutuk film ini sebagai suatu bentuk kampanye hitam terhadap ajaran agama yang sudah turun-temurun di Indonesia.


Respons atas kontroversi ini terlihat dari tindakan penghapusan trailer dan poster film yang sebelumnya sempat diunggah di berbagai media sosial.

Namun, meskipun demikian, rumah produksi yang memproduksi film ini belum memberikan tanggapan resmi terkait polemik yang terjadi.


Dalam sinopsis film, Kiblat mengisahkan tentang perjalanan seorang perempuan bernama Ainun (diperankan oleh Yasmin Napper) yang tinggal bersama kakaknya, Uwa.

Mereka berdua memuja Abah Mulya, pemimpin padepokan di Kampung Bumi Suwung, karena kemampuannya yang di luar nalar manusia biasa.

Namun, ketika Abah Mulya meninggal secara misterius, Ainun, dan sahabatnya memutuskan untuk mengungkap kebenaran di balik kematian sang guru spiritual.


Kisah semakin kompleks ketika mereka menemukan bahwa desa tempat Abah Mulya tinggal dipenuhi dengan fenomena-fenomena aneh, seperti perubahan arah kiblat yang tiba-tiba dan suara adzan yang membuat warga setempat kesakitan.

Saat Ainun melakukan ibadah sholat, terjadi kejadian mengerikan yang membuat suasana semakin tegang dan menegangkan.


Kontroversi yang menyelimuti Kiblat menyoroti sensitivitas isu-isu keagamaan dalam industri hiburan.

Selain itu, menunjukkan betapa pentingnya penggarapan cerdas dan sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.


Gina S. Noer, seorang sutradara terkenal, baru-baru ini menyuarakan pandangannya terkait film-film yang menyertakan unsur keagamaan dalam alur ceritanya.

Meskipun dia mengakui bahwa pembahasan tentang kepercayaan dan keyakinan agama adalah hal yang lumrah, dia mengecam penggunaan ritual keagamaan dalam konteks yang menakutkan dan mengintimidasi sebagai sesuatu yang disayangkan.


Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis, yang mengkritik film Kiblat tanpa melihatnya secara keseluruhan.

Menurut Cholil, penggunaan judul dan poster yang dianggap tidak sesuai dengan esensi agama Islam.

Terutama dengan gambar seorang perempuan yang mengenakan mukena dan tampaknya sedang dalam posisi sholat atau ruku, bisa memiliki dampak negatif terhadap pandangan masyarakat terhadap agama Islam dan bahkan memicu propaganda yang merugikan.

Editor : Amin Surachmad
#kiblat #dunia hiburan #ria ricis