Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Simak ! Begini Alasan Snapchat Lakukan PHK Masal dan Merumahkan 500 Karyawannya

Meitika Candra Lantiva • Rabu, 7 Februari 2024 | 18:26 WIB
Akun Snapchat. Baru-baru ini Perusahaan Snap Inc yang berfokus pada snap chat melakukan PHK massal dan merumahkan ratusan karyawannya.
Akun Snapchat. Baru-baru ini Perusahaan Snap Inc yang berfokus pada snap chat melakukan PHK massal dan merumahkan ratusan karyawannya.

 

RADAR JOGJA - Sebanyak 500 karyawan dari Perusahaan Snap Inc dirumahkan baru-baru ini.

Di balik perkembangan digital Snapchat dan perusahaan media sosial (medsos), justru melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

 

Dilansir dari Gizmochina.com, hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.

Di dunia teknologi, banyak perusahaan melakukan pemangkasan untuk tetap kompetitif dan gesit, seperti yang ditunjukkan oleh keputusan Snap.

Beberapa PHK lainnya baru-baru ini termasuk PHK massal Microsoft terhadap hampir 1.900 karyawannya, dan PHK Discord terhadap 17 persen karyawannya.

PHK ini bertujuan untuk membantu Snap mengurangi lapisan perusahaan dan meningkatkan pekerjaan tatap muka antar tim.

Ini adalah langkah strategis untuk menjaga perusahaan kuat dan fokus, terutama saat industri teknologi sedang mengalami banyak perubahan.

Bisnis teknologi lain, termasuk merek terkenal seperti Zoom dan Okta, telah melakukan PHK baru-baru ini.

Pada bulan Januari saja, ada hampir 24.000 PHK di sektor teknologi.


Ini telah terjadi sebelumnya pada Snap, dengan beberapa PHK yang dimulai pada tahun 2022.

Ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyesuaikan struktur bisnis dengan tujuan ekspansi dan inovasi.

PHK terbaru diperkirakan menelan biaya antara USD 55 juta dan USD 75 juta, atau antara Rp 866 miliar dan Rp 1,1 triliun lebih.

Selain itu, perusahaan ini menjadi perhatian karena pengaruh media sosial terhadap generasi muda.

CEO Evan Spiegel baru-baru ini membicarakan masalah ini dengan Komite Kehakiman Senat.


Terlepas dari masalah ini, Snap telah berhasil meningkatkan pendapatannya dari iklan digital dan baru-baru ini mulai membeli kembali saham senilai USD 500 juta, atau sekitar Rp 7,8 triliun.

Harga saham Snap masih jauh dari puncaknya pada tahun 2021 dan tetap di bawah harga penawaran umum perdana bahkan setelah upaya-upaya tersebut.

Ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang mengalami masa sulit, mencoba menemukan cara terbaik untuk maju dalam lanskap teknologi yang berubah dengan cepat. (Renal Fabriansyah/Radar Jogja)

Baca Juga: Korban Klithih Siswa SMP Dilempar Pedang, Ini Permintaan Polisi kepada para Ortu

Editor : Meitika Candra Lantiva
#phk masal #alasan #merumahkan karyawan #media sosial #snapchat