BANTUL – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY menerbitkan peringatan dini gelombang tinggi untuk wilayah perairan selatan Pulau Jawa.
Berlaku efektif mulai 25 Januari 2024, tepatnya pukul 19.00, hingga 27 Januari 2024 pukul 19.00.
Diprediksi ketinggian gelombang pada rentang waktu tersebut mencapai 2,5 meter hingga 4 meter.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul menyebut, gelombang tinggi di perairan selatan Jawa membuat para nelayan kesulitan untuk melaut. Alhasil menyebabkan produksi tangkapan ikan menjadi berkurang.
Kepala Seksi Perikanan Tangkap dan Pemberdayaan Nelayan DKP Bantul Pramahdiansyah mengatakan, gelombang tinggi merupakan faktor utama yang membuat nelayan kesulitan melaut.
Ditambah jarak antar gelombang yang pendek. Sehingga menyulitkan manuver perahu. Dampaknya, aktivitas penangkapan ikan di laut berkurang.
“Otomatis trip penangkapan ikan di laut berkurang, hasilnya juga berkurang,” ujar Pram, sapaannya, saat dihubungi, Kamis (25/1).
Ia menjelaskan, di Pantai Baru masih ada nelayan yang melaut, namun jumlahnya tidak banyak. Sebab, gelombang tinggi membawa risiko besar jika nelayan memaksakan melaut.
Padahal, saat ini sedang musim panen ikan. Seperti ikan bawal, layur, dan komoditas ikan yang lain.
“Tanggal 22 Januari masih ada bawal, tongkol dan gatho, tapi memang trennya turun,” katanya.
Menurunnya jumlah trip atau perahu yang melaut berpengaruh terhadap besaran hasil tangkapan dan varian jenis ikan yang didapat.
Baca Juga: Begini.. Amerika Serikat Lakukan Serangan Baru Terhadap Rudal Houthi Yaman !
Dalam 10 hari terakhir, Pram mengakui jumlah perahu yang melaut dan jenis ikan hasil tangkapan menurun.
Dari data di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ngenthak di Pantai Baru, jumlah rata-rata trip menurun dari 15 menjadi enam per hari.
Terhitung dari tanggal 11 Januari hingga 22 Januari 2024.
"Rata-rata satu trip selama sehari, meskipun pulangnya ada yang siang,” jelas Pram.
Sementara perbedaan jumlah tangkapan ikan tidak terlalu signifkan meskipun angkanya menurun. Dari data di TPI Ngenthak, pada tanggal 11 Januari jumlah tangkapan ikan di lokasi tersebut sebesar 383 kilogram.
Sedangkan pada tanggal 22 Januari, jumlahnya menurun menjadi 250 kilogram.
“Jenis ikan juga menurun, biasanya 10 sampai 15 jenis, menurun menjadi sekitar 5 sampai 6 jenis ikan,” imbuh Pram.
Menurutnya, kondisi di pantai lain di Bantul relatif sama. Hanya mungkin sedikit berbeda karena kondisi gelombang, angin, dan arus yang berasal dari arah selatan.
Selain itu, topografi dasar lautnya juga berbeda. Ada yang langsung dalam, namun ada yang lebih datar.
Sehingga mempengaruhi tingkat kesulitan take off dan landing perahu di masing-masing lokasi.
“Tapi, secara umum sepertinya sama, karena kendalanya gelombang dan cuaca yang merupakan hal umum. Tingkat kesulitan masuk dan keluar lautnya yang mungkin bisa bikin beda trip,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu nelayan Pantai Samas Tri Jarwanto mengaku dalam beberapa hari belakangan tidak melaut lantaran cuaca buruk.
Baca Juga: Adu Gagasan Calon Ketua OSIS SMPN 2 Jogja, Siapa yang Unggul ?
Meski begitu, menurutnya, saat ini masih ada sekitar dua kapal yang melaut di Pantai Samas.
Walau demikian, jarak tempuh kedua kapal tersebut masih pendek. Hanya erkisar satu sampai dua mil dari bibir pantai.
“Belum melaut. Melaut cuma dua kapal, jam 8 pagi sudah kembali. Hasilnya juga tidak mencukupi untuk biaya operasional,” ungkapnya.
Sementara biasanya nelayan melakukan perjalanan sekitar pukul 05.30 hingga 09.00. Dengan waktu tempuh tersebut, menurut Tri, jumlah tangkapan ikan masih belum optimal.
Ia mengeluhkan penghasilan dari ikan tangkap tersebut yang masih belum bisa menutup biaya operasional dalam sekali melaut.
Ia menyebut, dalam sekali melaut biaya operasional mencapai Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Sementara pendapatan nelayan per hari selama cuaca buruk berkisar Rp 100 ribu.
Selama cuaca buruk, beberapa nelayan pun melakukan beberapa pekerjaan sampingan yang lain.
“Seperti menjadi nelayan tangkap di sungai, menggarap lahan pertanian dan sebagian lainnya memperbaiki jaring,” jelas Tri. (tyo)
Editor : Amin Surachmad