Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mitigasi Bencana Perlu Tata Ruang Berbasis Informasi Multibahaya

Fahmi Fahriza • Minggu, 14 Januari 2024 | 19:10 WIB

 

SIAP: Guru Besar Geologi UGM Prof Dr Eng Ir Wahyu Wilopo.
SIAP: Guru Besar Geologi UGM Prof Dr Eng Ir Wahyu Wilopo.

RADAR JOGJA - Secara umum dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas gempa bumi di Indonesia terus mengalami peningkatan.
Data Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya pola peningkatan aktivitas gempa bumi sejak tahun 2013 dengan rata-rata 10.000 kali dalam setahun di seluruh Indonesia.
 Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Prof Dr Eng Ir Wahyu Wilopo mengatakan, kondisi tersebut ditengarai beberapa faktor krusial.
 
Salah satunya dikarenakan posisi Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia.
 “Karena itu, sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi,” katanya, Sabtu (13/1).


 Dikarenakan besarnya potensi bencana gempa bumi di Indonesia ini, Wahyu mengungkapkan perihal pentingnya penguatan mitigasi guna meminimalisasi dampak bencana.
 Disebutnya, salah satu mitigasi awal yang harus dilakukan dengan penyusunan tata ruang berbasis informasi multi bahaya. Khususnya, gempa bumi.
 Wahyu menjelaskan, setidaknya ada empat prinsip pendekatan perencanaan di daerah rawan gempa bumi yang mesti dilakukan.
 Pertama, mengumpulkan informasi bahaya patahan aktif yang akurat.


 Baca Juga: Petani Kalasan Deklarasi Dukung Sri Purnomo untuk DPR RI
 
Kedua, merencanakan untuk menghindari bahaya zona patahan sebelum pengembangan dan pembagian ruang.
 Ketiga, mengambil pendekatan berbasis risiko di wilayah yang sudah dikembangkan atau ditempati.Keempat, komunikasikan risiko di kawasan terbangun pada zona patahan.
 “Lalu, untuk daerah yang sudah dihuni itu perlu ada penguatan gedung, peningkatan ketangguhan, dan juga kesiapsiagaan masyarakat,” paparnya.
Dalam menjalankan upaya mitigasi bencana, Wahyu menyebutkan, perlu adanya kerjasama erat antara para stakeholder.Itu meliputi pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi, hingga media masa. 
 
Hal tersebut diakuinya perlu dilakukan dengan tujuan untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana secara kolektif."Semua harus dilibatkan dan punya keterlibatan untuk mitigasi bersama," pesannya. (iza/din)

Editor : Satria Pradika
#UGM #gempa #cincin api #BMKG