Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

120 Pengungsi Rohingya di Balai Meuseraya Aceh Lakukan Mogok Makan, Tuntut Tempat Penampungan yang Layak!

Cici Jusnia • Senin, 25 Desember 2023 | 22:05 WIB
Imigran Rohingnya gelombang tiga sampai di pesisir pantai Desa Pante Sukon, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada kamis (16/11/23). (Tangkapan layar video TikTok/@R&D)
Imigran Rohingnya gelombang tiga sampai di pesisir pantai Desa Pante Sukon, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada kamis (16/11/23). (Tangkapan layar video TikTok/@R&D)

RADAR JOGJA - Sekitar 120 orang pengungsi Rohingya yang saat ini tinggal sementara di ruang bawah tanah Balai Meuseraya Aceh (BMA) melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk protes terhadap kondisi tempat penampungan yang dianggap tidak layak.

Aksi ini terjadi dua kali, pada saat makan siang dan malam pada Jumat, 22 Desember 2023.

Kasatintelkam Polresta Banda Aceh, Kompol Suryo Sumatri Darmoyo, membenarkan insiden mogok makan ini pada Sabtu, 23 Desember 2023.

Ia menyatakan bahwa setelah dibujuk oleh petugas, para pengungsi awalnya bersedia makan kembali setelah aksi mogok makan pertama. Namun, situasi kembali memanas saat jam makan malam.

"Saat makan malam, mereka kembali mogok makan dengan menolak nasi bungkus yang dibagikan petugas. Meskipun akhirnya, sekitar pukul 21.10 WIB, para pengungsi menerima nasi setelah diberi pengarahan oleh relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI)," ungkap Suryo melalui akun Instagram @fakta.indo.

Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) melibatkan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh untuk membagikan makan malam kepada para pengungsi.

Namun, tuntutan utama mereka adalah terkait dengan kondisi tempat penampungan.

Salah satu pengungsi Rohingya menyatakan bahwa mereka menuntut tempat penampungan yang layak, sebanding dengan kondisi di Camp Bangladesh.

Suryo menjelaskan bahwa ratusan pengungsi Rohingya hanya dijaga oleh personel gabungan kepolisian, medis, dan Satpol PP.

Namun, ia mencatat bahwa organisasi Internasional United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang seharusnya bertanggung jawab mengurus pengungsi tidak ada di lokasi.

“Sementara, pihak UNHCR atau yang lainnya yang berkewajiban mengurus pengungsi tidak dapat ditemukan. Ketidakhadiran mereka sudah terjadi sejak lama,” ujar Suryo.

Sebelumnya, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa diperlukan biaya sebesar Rp42,6 miliar untuk jatah makan pengungsi Rohingya.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) juga mengumumkan bahwa mulai Januari 2024, mereka berencana meningkatkan jatah makan untuk setiap pengungsi.

Sejak November 2023, sebanyak 1.772 imigran gelap Rohingya telah mendarat di Aceh.

Diprediksi gelombang kedatangan para imigran gelap ini akan terus berlanjut hingga Maret 2024.

Editor : Bahana.
#rohingnya myanmar #rohingya di aceh #rohingnya #pengungsi rohingnya