RADAR JOGJA - Kasus perundungan terhadap seorang pelajar di SD Yuwati Bhakti Sukabumi menggemparkan masyarakat setempat.
Sorotan pun kini tertuju pada Kepala Sekolah (Kepsek) SD Yuwati Bhakti, Agustina Dede Mite, yang diduga terlibat dalam intimidasi terhadap korban.
Seorang pelajar, yang diidentifikasi dengan inisial L, mengalami perundungan yang berujung pada patah tulang.
Melissa Anggraini, seorang ahli hukum, pertama kali mengungkapkan kasus ini melalui cuitan di akun Twitter-nya, @MellisA_An.
Cuitan tersebut menggambarkan kekejaman yang dialami L hingga harus menjalani operasi akibat patah tulang.
Menurut Anggraini, guru-guru di SD Yuwati Bhakti justru mencoba membuat alibi agar kasus ini tidak terungkap.
L, yang saat itu mengalami kondisi tangan patah dan bengkak, diduga mendapatkan intimidasi agar tidak melaporkan kejadian tersebut kepada orang tua, termasuk dari Kepsek Agustina Dede Mite.
"Pasca lenggannya patah, guru-guru bukan segera membawa Leon ke RS, malah menyusun siasat dan kronologis yang akan disampaikan kepada orang tua Leon. Bahkan orang tua pelaku datang lebih dulu dibanding orang tua Leon sendiri," ujar Anggraini.
Lebih lanjut, Anggraini menyebutkan bahwa di ruang UKS, tempat L berada yang kesakitan akibat patah tulang dan bengkak, ia dipaksa untuk menghafal skenario baru.
Tujuannya jelas, yaitu untuk melindungi pelaku perundungan yang telah membuat L celaka.
Namun, penelusuran terkait informasi Agustina Dede Mite masih terbatas.
Hanya ditemukan bahwa sosok tersebut adalah Kepsek di SD Yuwati Bhakti Sukabumi berdasarkan laman sekolahloka.
Agustina Dede Mite juga memiliki akun media sosial, yakni Facebook dengan nama Agustina Dede Mite, dan Instagram dengan username @agustinadedemitale dan @adedemite.
Berdasarkan informasi tersebut, berikut adalah profil singkat Agustina Dede Mite:
- Nama Lengkap: Agustina Dede Mite
- Pekerjaan: Guru/Pengajar
- Jabatan: Kepala Sekolah
- Satuan Kerja: SD Yuwati Bhakti Sukabumi
- Facebook: Agustina Dede Mite
- Instagram: @agustinadedemitale, @adedemite
Kini, masyarakat menantikan respons resmi dari pihak sekolah dan pemerintah setempat terkait kasus ini.
Editor : Bahana.