BANTUL - Pantai Goa Cemara di Sanden, Bantul, perlahan mulai bangkit dari keterpurukan pandemi Covid-19. Pantai ini sempat sepi pengunjung karena batasan mobilitas masyarakat.
Pasca pandemi Covid-19 hingga sekarang justru menjadi sasaran para pemburu sunset. Atau, biasa disebut sunset hunter.
Suasananya yang sejuk saat sore membuat para sunset hunter nyaman berlama-lama di Pantai Goa Cemara. Banyak pohon cemara membuat udara tidak terlalu panas ataupun dingin.
Selain itu, deburan ombak yang saling menyusul juga menjadi penambah keindahan kala sore menjelang.
Kordinator Bidang Promosi Pantai Goa Cemara Fajar Subekti menyampaikan, sunset hunter adalah para pengunjung yang datang saat sore hari saja.
"Biasanya bisa 50-an sampai 200-an orang per hari, tergantung hari kalau weekend lebih banyak," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (24/11).
Menurutnya, sunset hunter adalah kalangan pengunjung yang datang untuk mengabadikan momen matahari tenggelam.
Umumnya digandrungi anak-anak muda usia belasa hingga puluhan tahun. Tentunya jumlah pengunjung sunset hunter juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang cerah atau tidak.
Fajar menuturkan, sunset hunter merupakan segmentasi baru yang diminati kalangan mahasiswa di Jogja.
Menurutnya, banyak pengunjung sunset hunter karena diawali media sosial (medsos). Ditambah lagi, Pantai Goa Cemara yang bentangannya cukup panjang membuat sunset dapat ditemui dengan mudah.
"Follower-nya cukup banyak dan punya pengaruh. Jadi exposure-nya luar biasa jadi ada tren begini. Ditambah akhir-akhir ini, ada anak-anak senja. Kami kena dampaknya," tuturnya.
Sunset hunter sudah berlangsung selama satu tahun belakanga ini. Namun, kegandrungan itu tidak juga berdampak pada sunrise hunter atau pemburu matahari terbit.
Namun, bagi pengunjung yang menjadikan Pantai Goa Cemara sebagai lokasi aktivitas olahraga lebih menyasar sunrise hunter.
Fajar membeberkan, mayoritas dari kalangan pesepeda dan pelari yang menjadikan Pantai Goa Cemara sebagai titik untuk memburu sunrise. Tetapi itu paling maksimal hingga pukul 08.00.
"Di sini kalau pagi itu rata-rata pengunjung untuk sport activity atau terapi," bebernya.
Dia mengungkapkan, terapi yang dimaksud ialah untuk pernapasan. Pengunjung seperti itu datangnya hanya pagi saja tidak sampai siang setelah itu meninggalkan Pantai Goa Cemara.
Segmentasi pengunjung yang paling lama berada di Pantai Goa Cemara ialah mereka yang sedang melakukan gathering atau makrab. Kalangan seperti itu biasanya sampai menginap beberapa malam.
Pantai Goa Cemara memang memiliki pendopo sebanyak tujuh unit yang bisa dilakukan untuk acara kelompok atau paguyuban. Selain itu, lahan parkir dan areanya yang luas cocok untuk dimanfaatkan kegiatan dengan jumlah masa yang banyak.
"Kami untuk acara gathering dan komunitas cocok karena keunggulan parkiran luas dan teduh 24 jam ditambah administrasinya satu pintu," ucapnya.
Selain itu, Pantai Goa Cemara memiliki tukik penyu setiap tahunnya. Fajar mengatakan, untuk memanfaatkan fasilitas itu biasanya dalam rentang waktu April hingga September setiap tahunnya.
Tiket masuknya Rp 10 ribu untuk satu orang. Biaya parkir kendaraan Rp 5 ribu untuk motor dan Rp 10 ribu untuk roda empat.
"Ramainya weekend atau hari libur, bisa mencapai sekitar empat ribuan pengunjung paling sedikit. Sedangkan hari biasa paling sekitar 500-an orang," tuturnya. (rul)