RADAR JOGJA - Gebyar Musik Indonesia Campursari 120 Jam Nonstop DIY berhasil tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai pementasan terlama di dunia. Pementasan campursari terlama ini semakin mengkukuhkan Keistimewaan DIY.
Sebelumnya, pementasan ini sukses digelar di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta sejak Minggu (29/10) pukul 21.00 hingga Jumat (03/11) pukul 21.00.
Sebanyak 31 grup campursari dari DIY dan berbagai daerah lainnya berpartisipasi dalam kegiatan hasil kerjasama Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY dengan Paguyuban Masyarakat Yogyakarta (Praja Jogja).
Alhasil setelah digelar selama lima hari enam malam berturut-turut, pementasan campursari 120 jam nonstop ini berhasil meraih tiga piagam penghargaan MURI untuk Rekor Dunia sekaligus.
Tiga piagam penghargaan MURI untuk Rekor Dunia Nomor 11373/R.MURI/XI/2023 atas rekor pagelaran campursari secara nonstop terlama di dunia dengan bangga dianugerahkan kepada Pemprov DIY, Praja Jogja, dan Maestro Campursari Alm Manthous.
Piagam penghargaan Rekor MURI tersebut diserahkan kepada Pemprov DIY yang diterima oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY Agus Priono, Ketua Umum Praja Jogja Sastro Harjanto dan salah satu anak almarhum Manthous.
"Saya kira aspek seni budaya bisa mengademkan kita semua, termasuk campursari dengan pecah rekor MURI campursari 120 nonstop oleh DIY. Acara ini sangat spektakuler berkat dukungan berbagai elemen dalam semua aspek. Yang jelas ini adalah suatu kebersamaan karena budaya bersifat universal," kata Kepala DPMPTSP Agus Priono.
Agus menjelaskan sebelumnya capaian membanggakan telah ditorehkan berupa penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO bulan lalu. Artinya, aspek seni budaya tersebut adalah hal yang sangat penting bagi DIY.
Seperti diketahui konsep Yogyakarta adalah kota budaya, bukan sebagai kota industri. Hal ini dikuatkan dengan salah satu aspek Undang-Undang Keistimewaan (UUK) adalah urusan kebudayaan.
" Jadi tepat sekali, Praja Jogja mempersembahkan rekor MURI ini sebagai capaian tersendiri semakin mengukuhkan keistimewaan DIY. Tidak cukup hanya ini, campursari haruslah digelorakan hingga mancanegara alias mendunia. Saya yakin dengan pemecahan Rekor MURI ini akan membawa dampak signifikan tidak hanya bagi DIY tetap bagi Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.
Kepala Banhubda DIY Nugrohoningsih mengaku bangga akan penampilan luar biasa dari 31 grup campursari atau sekitar 465 seniman dari DIY maupun luar daerah seperti Jawa Tengah (Jateng).
Meskipun butuh banyak effort, pihaknya sangat bersyukur kegiatan pementasan campursari ini sukses dan berjalan lancar sehingga berhasil meraih Rekor MURI yang dipersembahkan bagi Pemprov DIY. Dan akan mempertahankan serta meningkatkan rekor ini bersama Praja Jogja nantinya.
"Kami untuk menindaklanjutinya akan menggelar perlombaan campursari tahun depan. Pementasan campursari ini merupakan salah satu upaya menjaga, merawat, mengemas dan mempublikasikan budaya Indonesia," katanya.
Nugrohoningsih mengapresiasi Praja Jogja dan seniman seniwati campursari yang telah berdedikasi dan berpartisipasi. Sehingga pementasan Gebyar Musik Indonesia Campursari 120 Jam Nonstop untuk memecahkan Rekor MURI pentas terlama dapat terlaksana.
"Praja Jogja sangat luar biasa telah menciptakan inovasi dalam kegiatan berkesenian dan berkebudayaan," terangnya.
Ketua Panitia Gebyar Musik Indonesia Campursari 120 Jam Nonstop Sastro Harjanto mengatakan, acara ini dalam rangka mencatatkan kembali Rekor MURI pentas terlama. Ratusan seniman campursari baik dari DIY maupun luar DIY terlibat.
Sebelumnya, kegiatan serupa pernah dilaksanakan selama 100 jam di Wonogiri dan 90 jam nonstop di Gunungkidul pada 2018 lalu.
"Kita bersyukur bisa mewujudkan sebuah impian dan semangat para seniman yang selama ini terus berkarya melestarikan seni campursari. Kemudian disatukan dalam kegiatan pentas seni campursari 120 jam nonstop ini. Warnanya mampu menghiasi setiap sudut-sudut, khususnya dimana populasi warga Jawa berada hingga saat ini," katanya.
Kegiatan ini sekaligus didedikasikan bagi sang maestro pembuat genre musik populer Jawa yaitu almarhum Manthous. Sang maestro campursari asal Gunungkidul ini telah memberikan warisan berharga karya seni yang menjadi bagian dari kehidupan di masa kini.
Selain itu, pihaknya berterima kasih atas dukungan Pemprov DIY melalui kucuran Dana Keistimewaan (Danais) dan sejumlah pendukung lainnya
Ketua Umum Praja Jogja ini menekankan dunia harus mengetahui bahwa campursari telah menjadi salah satu identitas keistimewaan DIY dan salah satu epicentrum kebudayaan Indonesia ada di DIY.
Praja Jogja juga akan berperan aktif, baik terus berkreasi dan memberikan inspirasi bagi semua pihak.
"Pengurus MURI telah memverifikasi sebuah kegiatan pencatatan superlatif yaitu terlama yang luar biasa penampilan campursari selama 120 jam nonstop. MURI memutuskan acara ini bukan pemecahan rekor Indonesia tetapi rekor dunia. Kami harapkan ajang pencatatan ini menjadi momentum bangkitnya kembali kebudayaan Indonesia. Semoga campursari menjadi mahakarya dari Jogja untuk dunia," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad