RADAR JOGJA – Sejumlah perusahaan atau merek ada yang mendukung Israel mulai diboikot oleh banyak masyarakat dunia. Boikot itu adalah bentuk protes keras atas serangan Israel ke Palestina.
Dilansir dari cnbcindonesia, salah satu perusahaan yang menjadi target boikot adalah Starbucks. Starbucks adalah sebuah perusahaan kopi dan jaringan kedai kopi global asal Amerika Serikat yang berkantor pusat di Seattle, Washington.
Starbucks didirikan pada 30 Maret 1971 di Pasar Pike Place, Seattle, Washington, Amerika.
Menurut data Statista, Starbucks tercatat memiliki 35.771 kedai di seluruh dunia hingga 2022. Akibat gerakan boikot, sejumlah kedai Starbucks dilaporkan mulai sepi.
Salah satunya adalah deretan Starbucks di Qatar. Dalam video yang beredar di X/Twitter, hampir seluruh gerai Starbucks di Qatar hampir tidak ada pengunjung.
Bagaimana awal mulai gerakan boikot Starbucks akibat perang Kelompok Islam Palestina, Hamas dan Israel? Berikut ini 3 faktanya.
- Manajemen Starbucks Menggugat Serikat Pekerja
Awal mulai boikot ditargetkan kepada Starbucks adalah setelah pihak manajemen menggugat serikat pekerja, Starbucks Workers United, pada awal oktober 2023 lalu.
Gugatan muncul setelah organisasi menyatakan solidaritas terhadap warga Palestina.
Namun, pernyataan solidaritas yang diunggah melalui X itu telah dihapus.
Menurut keterangan resmi Starbucks, gugatan tersebut dilayangkan karena Starbucks Workers United dianggap menyalagunakan nama, logo, dan kekayaan intelektual perusahaan.
“Workers United, afiliasi lokalnya, pengurus serikat pekerja, dan mereka yang mengidentifikasi diri sebagai anggota “Starbucks Workers United” tidak mewakili Starbucks Coffee Company dan tidak mewakili pandangan, posisi, atau keyakinan perusahaan,” ujar Wakil Presiden Eksekutif dan Chrief Partner Officer Starbucks, Sara Kelly, dikutip Kamis (2/11/2023).
Baca Juga: Penting ! Sobat MLBB Ini Hukuman Terbaru Untuk Player Toxic dan Rasis, Siap-siap !!!
Kelly mengatakan bahwa perilaku sembrono dan tercela ini harus diatasi melalui sudut pandang keselamatan mitra kami dan kejelasan posisi resmi Starbucks di depan umu yang mengutuk kekerasan di wilayah tersebut.
Serikat pekerja pun telah mengajukan gugatan balik terhadap Starbucks. Mereka menyebut gugatan tersebut sebagai upaya untuk merusak serikat pekerja dan melemahkan upaya pengorganisasian mereka.
- Starbucks Beri Klarifikasi terkait Perang Israel-Palestina
Dalam pernyataan terpisah, Starbucks menegaskan bahwa pihaknya mengutuk tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan.
Selain itu, menajemen kembali menyatakan ketidaksetujuan atas pandangan yang diungkapan oleh Workers United.
Menuru manajemen, seluruh pernyataan dan tindakan Workers United adalah tanggung jawab masing – masing tanpa melibatkan Starbucks secara keseluruhan.
“Starbucks kembali menyampaikan simpati terdalam kami kepada mereka yang terbunuh, terluka, terlantar, dan terkena dampak dari aksi teror yang keji dan tidak dapat diterima, meningkatnya kekerasan, dan kebencian terhdapa orang – orang tak berdosa di Israel dan Gaza,” tulis Starbucks dalam pernyataan 11 Oktober 2023.
“Sebagai penegasan, kami dengan tegas mengutuk tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan ini, dan tidak setuju dengan pernyataan dan pandangan yang diungkapkan oleh Workers United dan para anggotanya,” ujar manajemen Starbucks.
- Starbucks Jawab Pertanyaan Soal Dukungan Israel
Pada 2014 lalu, Starbucks merilis kolom tanya dan jawab terkait sikap dukungan terhadap Israel. Salah satu pertanyaan terbanyak yang diajukan kepada Starbucks adalah terkait dukungan finansial terhadap Israel.
“Tidak. Hal itu tidak benar. Rumor bahwa Starbucks atau Howard Schultz memberikan dukungan keuangan kepada pemerintah dan/atau tentara Israel adalah sepenuhnya salah,” jelas Starbucks.
“Starbucks adalah perusahaan publik dan sebagai perusahaan tersebut wajib mengungkapkan segala bentuk sumbangan korporasi setiap tahun melalui proxy statement,” lanjut Starbucks.
Starbucks juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengirimkan sebagian keuntungan kepada pemerintah dan/atau tentara Israel.
Dalam kolom yang sama, Starbucks menyatakan bahwa pihaknya mengakhiri kemitraan di Israel pada 2003 lalu karena tantangan operasional, bukan berdasarkan masalah politik.
Menurut manajemen, seluruh keputusan bisnis tidak pernah berdasarkan isu politik. Apa tanggapan kalian tentang hal ini? Apakah kalian adalah salah satu yang sering membeli produk Starbucks? (Juliana Belence/ RADAR JOGJA)
Editor : Bahana.