RADAR JOGJA - Produk-produk karya anak bangsa semakin menunjukkan tajinya dari waktu ke waktu. Kemampuan para putra bangsa dalam mengembangkan sistem persenjataan terbilang moncer.
Tercatat sudah ada begitu banyak sistem persenjataan karya anak bangsa yang diakui kehebatannya.
Satu di antaranya yakni Bom P Series yang dikembangkan oleh PT Dahana.
Bom P Series terdiri dari trio Bom P-100L, P-250L, dan P-500L. Produk PT Dahana yang satu ini bukanlah sembarang bom. Pasalnya, trio bom tersebut menjadi andalan pesawat tempur Indonesia.
Direktur Teknologi & Pengembangan PT Dahana Wildan Widarman menyebut bahwa Bom P Series biasanya diaplikasikan pada pesawat tempur Sukhoi pabirkan Rusia. Indonesia sendiri diketahui masih mengoperasikan pesawat Sukhoi hingga saat ini.
Terdapat 11 unit Sukhoi Su-30 buatan Rusia yang bergabung ke TNI sejak 2013. Homebase jet tempur generasi 4 tersebut berada di Lanud Hasanuddin Makassar.
Berasma Sukhoi Su-30, ada pula 5 unit Sukhoi Su-27 yang tiba di Indonesia pada 2009.
Bom P-100L, P-250L, dan P-500L memiliki kemampuan ledak yang luar biasa. Efek pecahannya bahkan dapat menghancurkan bangunan, pondasi bunker, serta benda bergerak di area yang luas.
Bom P Series terbagi menjadi empat bagian utama seperti, Noze Fuse Bom Assembly, Suspension Lugs Bom, Body Bom Assembly, dan Tail Bom Assembly.
Sementara itu, kapasitas produksi masing-masing bom berkisar di 3000 pcs/tahun untuk Bom P-100L, 2000 pcs/tahun untuk Bom P-250L, serta 1000 pcs/tahun untuk Bom P-500L.
Direktur Teknologi & Pengembangan PT Dahana Wildan Widarman mengatkaan bahwa Bom P Series masuk ke dalam kategori bom High Drags General Purpose (HDGP).
"Ketiga Bom P Series ini memiliki tipe fuze bom yang sama, yaitu AVU-ETM/AVU-ETMA," ungkap Wildan.
Wildan menambahkan bahwa Bom P Series diciptakan untuk mengurangi ketergantungan importasi bom Indonesia dari luar negeri.
Pengembangan Bom P Serius juga sekaligus mewujudkan kemandirian Alpalhankam Indonesia.
"Selain itu, keuntungan dari memproduksi secara mandiri adalah harga distribusi serta perawatan yang lebih bersaing dibanding mengimpor," papar Wildan. (Hasnul Fauzi)
Sumber: zonajakarta.com
Editor : Bahana.