RADAR JOGJA - Konsep fashion show warga Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk unik dan tak biasa. Mereka membuat event festival memedi sawah di tengah ladang. Selain menghibur, acara tersebut juga menginspirasi.
Ketua panitia kegiatan Festival Memedi Sawah Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk Kemiran mengatakan, acara ini memiliki dua tujuan dasar. Pertama, bernostalgia dengan masa lalu, kedua merespon perkembangan pariwisata agar efek dominonya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dia menyebut, dulu, nenek moyang mengajarkan cara mengusir burung pemakan padi dengan memedi sawah. "Karena tidak mungkin setiap saat menunggu padi di sawah, dibuatlah memedi sawah untuk menakut-nakuti burung," kata Kemiran.
Dia menjelaskan, memedi sawah adalah bentuk intimidasi kepada burung pipit atau hama padi lainnya. Maka, para petani memasang memedi sawah di areal pertanian ketika padi mulai menguning agar tidak diserbu pasukan burung pipit.
"Artinya harus kita lestarikan dengan wujud festival memedi sawah ini," ujarnya.
Dengan demikian, generasi sekarang memahami keterkaitan antara memedi sawah dengan hama burung pipit dan sejenisnya. Maka kebanyakan bentuk memedi sawah menyerupai wujud manusia.
"Sisi positif lainnya, dengan diadakannya festival memedi sawah maka secara langsung berdampak terhadap perekonomian masyarakat," jelasnya.
Terbukti rangkaian kegiatan yang dihelat selama dua hari mendapatkan sambutan hangat dari warga. Tidak hanya lokal Kalurahan Putat, namun juga wisatawan dari luar daerah.
"Acara puncaknya hari ini festival memedi sawah, di tanah lungguh Plumbungan, " ucapnya.
Lebih jauh dikatakan, festival memedi sawah diikuti warga sembilan padukuhan. Masing-masing padukuhan membuat empat memedi sawah, terdiri dari dua benda mati dan dua manusia sunguhan mengenakan kostum memedi sawah.
"Diawali dengan arak-arakan, diakhiri dengan fashionshow kostum memedi sawah," jelasnya.
KabutBaca Juga: Hati-Hati, selama Kemarau Panjang Kabut Tebal Lebih Sering Terjadi
Sementara itu Lurah Putat Rusbandi mengatakan, wilayahnya termasuk penghasil padi terbesar di wilayah Kapanewon Patuk. Kebersamaan, kerukunan, kemandirian dan kemakmuran hanya dapat terwujud jika semua pihak saling bersinergi.
"Cukup banyak lahan abadi di wilayah kami. Selain untuk pertanian juga dapat dikolaborasikan dengan konsep pariwisata. Salah satunya melalui festival memedi sawah," kata Rusbandi.
Pantauan Radar Jogja, meski dilaksanakan di bawah terik matahari acara itu berlangsung meriah. Semua pihak terkait dikerahkan termasuk tenaga keamanan dan kesehatan. (gun)
Editor : Heru Pratomo