Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Soal Pemasangan Chattra di Candi Borobudur, Kemenag Optimistis Segera Ada Titik Temu

Naila Nihayah • Jumat, 13 Oktober 2023 | 21:15 WIB
UTAMA: Kemenag menggandeng BRIN untuk mengkaji soal pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
UTAMA: Kemenag menggandeng BRIN untuk mengkaji soal pemasangan chattra di stupa induk Candi Borobudur. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

 

MAGELANG - Rencana pemasangan chattra atau struktur payung batu di atas stupa induk Candi Borobudur masih ditemui pro dan kontra. Terutama dari aspek arkeologi.

Meski demikian, Kementerian Agama (Kemenag) RI optimistis akan ada titik temu. Sebab diskusi dan komunikasi tentang chattra mulai terbangun positif.

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo menilai, saat ini diperlukan langkah taktis agar segera ada kesepamahaman bersama.

Menurutnya, perdebatan itu menjadi hal yang wajar. Mengingat rencana pemasangan chattra itu belum benar-benar final. Terlebih, masing-masing pihak belum mendengar secara utuh prinsip dan pandangan soal hal itu.

Namun, perbedaan tersebut diyakini akan menemui titik temu. Sebab, di tingkat kementerian maupun pemerintah daerah telah menyetujui pemasangan chattra itu.

“Ini memang tidak mudah karena ada banyak perspektif. Namun, banyaknya perspektif justru akan memperkaya proses pemasangan chattra,” bebernya.

Dia menyebut, pemasangan chattra ini seyogianya tidak hanya menilik dari aspek arkeologis. Tapi, juga melibatkan sisi spiritualitas umat Buddha.

Bimas Buddha juga turut berdiskusi dengan para arkeolog. Dengan cara ini, dia yakin akan mendapatkan sebuah kesepahaman bersama yang lebih konkret.

Termasuk soal anggapan bahwa komposisi sebagian kecil batu chattra adalah batu baru misalnya. Hal itu tentu bisa diuji ulang bersama.

Demikian juga, ada anggapan jika pemasangan chattra di stupa induk dinilai membahayakan. Sebagaimana pernah dilakukan Theodoor van Erp kala pemugaran tahap I (1907-1911).

Menurutnya, saat ini sudah ada teknologi yang bisa menjembataninya. “Yang jelas pemasangan chattra butuh percepatan, tentu dengan langkah terukur. Harapannya, rencana besar ini tak hanya jadi angan-angan, tapi legacy yang baik bagi umat Buddha Indonesia dan dunia,” tandasnya.

Dirjen Bimas Buddha, Kemenag RI Supriyadi mengatakan, pihaknya akan merangkul dan membangun komunikasi yang intensif dengan para arkeolog maupun pihak lain.

Targetnya adalah terbangun kesadaran bersama demi memadukan antara aspek religi dan benda warisan cagar budaya di Candi Borobudur.

Untuk memperkokoh kesepahaman bersama ini, Kemenag telah menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dari BRIN ini, diharapkan pemasangan chattra dapat dikaji secara komprehensif. Utamanya didahului analisis, riset, dan muaranya menjadi sebuah kebijakan yang matang.

Menurut Supriyadi, chattra di Candi Borobudur akan menambah aura spiritualitas kesempurnaan beribadah bagi umat Buddha.

Di sisi lain, pemasangan chattra ini sudah mendapat persetujuan para pemangku kebijakan. Apalagi, Candi Borobudur telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) di Indonesia.

Sementara itu, pelaku pemugar tahap II Ismijono mengutarakan, penambahan chattra pada Candi Borobudur perlu diperkuat dengan penelitian yang lebih komprehensif.

“Kami tidak dalam posisi untuk mengatakan pemasangan chattra boleh atau tidak. Apalagi dalam UU Cagar Budaya (UU No 11 Tahun 2010) ada pasal yang mengatur tentang pengembangan dan pemanfaatan candi,” katanya.

Oleh karenanya, lanjut Ismiyono, masalah pemasangan chattra seyogyianya perlu dibicarakan dalam ranah pengembangan pemanfaatan. Terutama dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan guna memperoleh kesepakatan bersama. (aya)

Editor : Amin Surachmad
#Candi Borobudur #stupa #Chattra #kemenag