Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Efek Perbaikan Saluran Air Hujan Gedongtengen, Aliran Air di Candi Donotirto Pringgokusuman Mati

Annissa Alfi Karin • Rabu, 4 Oktober 2023 | 22:50 WIB

 

PEMANDIAN: Warga beraktivitas di pemandian umum Candi Donotirto, Kampung Kemetiran Kidul, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Jogja, kemarin (4/10). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
PEMANDIAN: Warga beraktivitas di pemandian umum Candi Donotirto, Kampung Kemetiran Kidul, Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Kota Jogja, kemarin (4/10). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - Salah satu sumber air bagi masyarakat di sekitar Pringgokusuman, Gedongtengen, Kota Jogja, yakni Candi Donotirto ditutup mulai hari ini, Rabu (4/10) hingga Senin (9/10). 

Meski dinamai candi, tapi sejatinya Candi Donotirto merupakan tempat pemandian umum. Sekelilingnya dibangun semacam pembatas yang bentuknya menyerupai candi.

Pada Rabu siang, air masih terlihat mengalir di beberapa grojokan. Candi Donotirto terpisah menjadi dua lokasi, untuk laki-laki dan perempuan. Masing-masing di dalamnya ada 7 grojokan.

Di bagian perempuan, dari 7 grojokan itu hanya 4 grojokan yang masih mengalir. Sementara di bagian laki-laki, aliran air di seluruh gerojokan sudah sangat kecil.

Bahkan, beberapa di antaranya sengaja disumbat agar tak ada warga yang menggunakan air di situ.

Pengelola Candi Donotirto Yoes Koesdarto menuturkan, semakin lama aliran air akan semakin mengecil. Bahkan, tak mengalir sama sekali.

Dia mengaku telah menerima surat pemberitahuan penghentian air yang mengalir dari Kali Winongo itu. Surat pemberitahuan dia terima dari penyedia jasa pelaksana konstruksi CV Bintang Pratama.

Di dalam surat itu, tertulis alasan penutupan aliran air lantaran adanya pelaksanaan pekerjaan pembangunan saluran air hujan (SAH). Tepatnya, di depan Kantor Kemantren Gedongtengen.

“Penutupan akan dilakukan sampai dengan hari Senin tanggal 9 Oktober 2023,” ujar Yoes saat ditemui di Candi Donotirto, Rabu (4/10).

Saat beropersional secara normal, dalam satu hari setidaknya ada puluhan hingga seratusan warga yang memanfaatkan aliran air di Candi Donotirto.

Kebanyakan dari mereka melakukan aktivitas mandi dan mencuci. Jam-jam padat dimulai pukul 05.00 hingga 09.00 WIB, lalu pukul 15.00 hingga 19.00 WIB. Warga sekitar, para pedagang di Pasar Senen, dan tukang becak yang kebanyakan mengakses air di Candi Donotirto.


“Kalau wisatawan biasanya hanya tertarik karena bangunannya saja. Lalu ingin tahu tentang sejarahnya seperti apa,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris LPMK Pringgokusuman Irwan Yunianto mengatakan berhentinya aliran air di Candi Donotirto itu merupakan hal yang wajar pada saat kemarau.

Menurutnya, ini sejalan dengan volume Kali Winongo yang juga berkurang. Irwan menjelaskan, pemandian umum ini meng-cover kebutuhan air bagi warga lingkup RW 17, Pringgokusuman. Utamanya bagi warga atau kelompok pemakai air (pokmair) yang tak punya sanitasi memadai.

“Beberapa masih ada (sanitasi kurang memadai) karena lokasinya juga tidak memungkinkan untuk membuat sanitasi sendiri di wilayah itu. Padat dan tidak layak kalau membuat sanitasi dengan sumber airnya kan hampir dekat-dekat lokasinya,” jelas Irwan.

Sembari menunggu grojokan di Candi Donotirto kembali mengalir, Irwan meminta masyarakat untuk memanfaatkan keberadaan pemandian umum di lokasi lainnya. Misalnya, di RW 21 dan RW 16 Pringgokusuman.
“Jadi memang ada lokasi untuk warga, bisa dialihkan ke sana,” katanya. (isa)

Editor : Amin Surachmad
#sumber air #candi #Kota Jogja #saluran air hujan