RADAR JOGJA – Viral di media sosial, seorang remaja SMP nekat mengakhiri hidupnya hanya karena tidak dibelikan motor NMAX. Remaja laki-laki berusia 14 tahun itu pun mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Menjerat lehernya dengan tali nilon.
Peristiwa ini terjadi di Dusun Suka Jaya, Desa Kadindi, Kacamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Korban diketahui bernama Andang. Peristiwa menggemparkan ini terjadi Rabu (3/10/2023) sekitar pukul 18.45 WITA.
Dihimpun dari berbagai sumber, peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh neneknya bernama Sahri Ina Fajri (65), yang kebetulan tinggal serumah dengan korban.
Saat itu, nenek korban sedang masak di dapur tiba-tiba dikagetkan dengan suara benda jatuh di dalam rumah. Sahri bergegas mendatangi sumber suara tersebut.
Tubuh Sahri seketika runtuh. Sang cucu dalam kondisi tidak bernyawa dengan leher terlilit tali nilon yang sudah putus. Dengan bekas tali nilon yang masih tergantung, besar kemungkinan cucunya bunuh diri.
Sang nenek berteriak histeris dan menangis. Sehingga terdengar oleh tetangga yang kemudian membuat gempar. Warga sekitar langsung berdatangi rumah nenek Sahri.
Melihat kondisi jenazah, warga bergegas menolongnya. Membantu melepaskan ikatan tali nilon yang menjerat leher korban. Kemudian mengangkat korban ke tempat tidur.
Mendapat laporan itu, Personel Polsek Pekat segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Namun pihak keluarga sudah mengikhlaskan kepergian korban dan menolak untuk dilakukan visum.
"Korban masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Diduga nekat mengahiri hidupnya lantaran keinganannya untuk dibelikan motor NMAX tidak bisa dipenuhi oleh ibua dan neneknya," ungkap Paur Subbag Humas Polres Dompu Aiptu Hujaifah.
Selain itu, sebelum mengakhiri hidupnya, korban ingin bertemu dengan ayahnya.
Bahkan hal itu sering ia nyatakan kepada ibunya dan selalu dijawab tidak tahu.
Sehingga korban mengalami depresi dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
“Kerena faktor ekonomi yang tidak mencukupi, makai ibu dan neneknya belum memenuhi keinginan si korban,’’ katanya.
Korban selama ini tinggal di rumah neneknya. Kedua orang tuanya sudah lama bercerai saat Andang berusia 5 tahun.
Dan sejak saat itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya.
Beberapa hari sebelum kejadian, keluarga sering melihat korban duduk termenung dan lebih suka mengurung diri di dalam kamarnya. (Dwi putri Birgita Lumban Nahor)