Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pagar Oranye Diganti Hijau Pare Anom, Upaya Edukasi Estetis Hargai Tugu Jogja Warisan Dunia

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 29 September 2023 | 23:32 WIB
HIJAU: Pagar Tugu Jogja dicat warna hijau. (Dok Istimewa)
HIJAU: Pagar Tugu Jogja dicat warna hijau. (Dok Istimewa)

JOGJA - Pagar yang mengitari Tugu Pal Putih Jogja diganti. Sekarang lebih terlihat estetik berwarna hijau pare anom dan bertuliskan huruf jawa. Sebelumnya pagar yang terpasang adalah milik Dinas Perhubungan Kota Jogja berwarna oranye.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, pagar yang terpasang tetap bukan sebagai pagar permanen. Pagar itu sama saja fungsinya seperti sebelumnya.

Hanya, diganti untuk menambah kesan estetis kawasan Tugu. Pun sejatinya kawasan Tugu itu bebas dari pagar.

"Kemarin kan do protes dipasangi pagar dishub sudah tinggi jelek kali, itu kan hanya untuk sementara. Memang tidak akan dipagari permanen wong niatnya untuk diapresiasi hanya untuk pengaturan saja," katanya di Kompleks Kepatihan Jumat (29/9).

Dian menjelaskan prinsipnya adalah sebagai upaya mengedukasi masyarakat khususnya pengunjung yang datang ke kawasan tersebut untuk menghargai keberadaan Tugu.

Terlebih, Tugu merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Jogja yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco belum lama ini.

"Itu bagian dari edukasi kita menghargai Tugu. Kalau nanti masyarakatnya jangan menginjak, jangan masuk, sudah tertib, yo okelah nggak perlu pakai itu-ituan juga," ujarnya.

Menurutnya, masyarakat atau pengunjung sejatinya harus menjaga fasilitas yang ada, mengikuti aturan dan tak mengotori lingkungan sekitar.

Sebab, sejauh ini Disbud memiliki juru pelihara atau jupel sering menemukan adanya puntung rokok dan bagian yang seharusnya tidak diinjak justru meninggalkan bekas telapak sepatu. Sehingga, instansi ini harus bersikeras melakukan pemeliharaan.

"Saya ngecat bekas-bekas sepatu di Tugu itu rutin e. Terus juru pelihara kami harus setiap anu membersihkan puntung-puntung rokok," jelasnya.

Sehingga, untuk saat ini masih dibutuhkan pagar tersebut sebagai pengaturan saja. Jika ada batas-batas yang seharusnya masyarakat lakukan ketika berada di kawasan Tugu Jogja.

Pemprov tak melarang pengunjung bersua foto disana, hanya harus paham untuk menjaga warisan dunia itu dengan menghargai keberadaannya.

"Jadi kalau masyarakat itu sebenarnya mereka lebih respect terhadap Tugu, mungkin nggak perlu dipagar ya. Tapi kita kan nggak bisa ngontrol yang respect sama tidak, orang (mobil) yang nyungsep kesana aja sampai dua kali," jelasnya.

"Akhirnya imajinernya dipaksa untuk respect. Nanti kalau sudah terbentuk edukasi untuk merespect ya ngggak ada lah pagar-pagaran," sambungnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Tugu #huruf jawa #Tugu Pal Putih Jogja