RADAR JOGJA - Peneliti Jepang tepis limbah nuklir berbahaya dibuang ke laut.
Penelitian ini tak sejalan dengan apa yang di kecam Negara Cina dan kekhawatiran nelayan terhadap hasil tangkapan laut.
Melansir dari ABC News Australia, pembuangan limbah tersebut selalu dilakukan pengawasan.
Ikan yang ditangkap di pantai lepas Fukushima, setelah diteliti tidak terdeteksi kandungan tritium. Sehingga hasil laut dari Perairan Jepang aman untuk dikonsumsi.
Dan Sejalan dengan penelitian tersebut Pemerintah Jepang sudah mulai kembali mengkonsumsi hasil laut dari pantai tersebut.
Disebutkan, pembuangan air limbah nuklir di Perairan Jepang saban tahunnya sebanyak 22 triliun bq. Jumlah ini lebih kecil jika dibandingkan negara-degara lain di sekitarnya.
Di Korea Selatan misalnya. Jumlah limbah nulir yang terbuang ke laut mencapai 49 triliun bq pada 2021.
Pada tahun yang sama pembuangan air limbah nuklir di Cina mencapai 112 triliun bq. Lebih tinggi dari angka di Jepang.
Berikutnya, pembuangan air limbah di Inggris mencapai 186 bq pada 2020, Kanada mencapai 190 triliun bq pada 2021 dan Prancis menduduki jumlah tertinggi angka pence,marannya yakni mencapai 10.000 triliun bq pada 2021.
Air limbah nuklir yang dibuang ke Samudera Pasifik itu menurutnya diawasi ketat Pemerintah Jepang.
Tak hanya itu, pembuangan limbah sudah kantongi persetujuan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), setelah dua tahun dilakukan penilaian.
Disisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan bahwa pembuangan limbah nuklir di Negara Sakura ini dinyatakan masih aman. Sebab kandungan zat tritiumnya kurang dari angka 10.000 Becquerel (bq) per liter.
"Saya tidak ingin orang mempertanyakan apakah kita harus makan makanan laut, yang telah dilarang oleh China. Karena setiap hari kami memposting hasil terbaru yang menunjukan tingkat tritium yang tidak terdeteksi," ungkap Katsumi Ishimori, seorang perwakilan dari perusahaan grosir yang bergerak dalam distributor ikan segar, produk beku, makanan olahan, dan makanan laut dari Jepang.