RADAR JOGJA - Arsitektur bangunan Masjid Gedhe Mataram Kotagede sangat khas. Mempunyai ciri khas khusus.
Pagar yang mengelilingi masjid tersebut memiliki nuansa Hindu. Ini wujud adanya akulturasi antara Islam dan Hindu kala itu.
Dikutip dari Disbud DIY, ruang utama Masjid Gedhe Mataram Kotagede memiliki atap berbentuk tajug. Atapnya berbentuk piramida. Terdiri dari tiga tingkat. Terbuat dari kayu. Dan, ditutupi dengan genteng.
Baca Juga: Ke Halaman Masjid Gedhe Mataram, Bernostalgia di Pasar Lawas Mataram
Pada bagian puncak tajug, dipasang sebuah mahkota. Mahkota yang biasa disebut mustoko dari tembaga itu diberi hiasan kluwih. Kluwih merupakan sinonim kataka-luwih-anyang, yang bermakna berlipat ganda.
Bagian kemuncak atap model tajug dilengkapi mustoko yang terbuat dari tembaga.
Serambi masjid dipayungi atap. Atapnya berbentuk limasan. Mirip bentuk perisai.
Baca Juga: Lestarikan Makanan Tradisional lewat Pasar Lawas Mataram
Secara umum, Masjid Gedhe Mataram berbentuk bujur sangkar. Lazimnya bentuk arsitektur bangunan Jawa lainnya.
Sebab, dalam khazanah estetika Jawa lazim menggunakan simbol konsep "klebat papat, limo pancer”. Simbol konsep ini merupakan simbol kemantapan. Sekaligus, keselarasan yang merupakan lambang empat mata angin dengan pusat di tengahnya.
Baca Juga: Pasukan Kolonel James Watson Ledakkan Timur Laut Benteng Baluwarti Keraton Jogja
Ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Terdapat empat tiang soko guru. Tiang penopang atap model tajug.
Ruang utama juga dilengkapi sejumlah jendela dan pintu. Kusen jendela terbuat dari kayu.
Bagian serambi terletak di sebelah timur ruang utama. Atap serambi berbentuk limasan yang ditopang sejumlah tiang.
Editor : Amin Surachmad