RADAR JOGJA - Belum genap sebulan, Jogjakarta kehilangan tokoh Pelukis Ekspresif Djoko Pekik dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta sekaligus Pematung, Timbul Raharjo, kini jagat seni rupa kembali berduka.
Tokoh Pelukis Surealis Jogjakarta VA Sudiro tutup usia.
Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (7/9/2023) sekitar pukul 07.00 WIB.
Tersiar kabar pelukis senior itu meninggal lantaran sakit yang dideritanya.
"Pak VA Sudiro, sudah setahun sering gerah (sakit), karena faktor usia," ungkap Yaksa Agus, sesama Seniman Jogja.
Kepergian VA Sudiro meninggalkan dua putra dan empat cucu. "Pemakaman jenazah dilaksanakan hari ini (8 September 2023) di Pemakaman Seniman Imogiri pukul 10.00 WIB, kabupaten Bantul.
Diketahui VA Sudiro meninggal dunia di usia senjanya, 84 tahun.
VA Sudiro merupakan pelukis asli Jogja. Dia tinggal di Singosaren Kidul, RT 05 / RW 01, Wirobrajan, Kota Jogja.
Dia dikenal sebagai pelukis senior di jagad seni rupa. Sosoknya konsisten di jalur Surealis.
Lukisan-lukisannya cenderung mengangkat spiritualisme kehidupan masyarakat Jawa. Acap kali menghadirkan sosok semar dalam karyanya.
"Dahulu sering kali ada anggapan, seniman seni rupa asli Jogja itu adalah makhluk langka, VA Sudiro menjawab stigma itu dengan konsistennya," ujar Yaksa menceritakan sosok VA Sudiro, seniornya itu.
Selain dikenal dengan pelukis surealistis, VA Sudiro yang akrab dipanggil Diro itu merupakan salah satu pelopor Seni Lukis Batik Indonesia.
Bersama tokoh lain, seperti Bagong Kussudiardja, Mudjita, Nasjah jamin, Suhadi, Nyoman Gunarsa, Suwaji, mereka membuat Sanggar Banjar Barong.
Diro turut membuat eksperimen melukis dengan media batik di tahun 1970-1971.
"Kemudian seni lukis batik diterima publik dan bahkan pernah menjadi ikon pariwisata era 1980-1990an," terang Yaksa.
Yaksa mengaku, pertama kenal VA Sudiro dari karyanya yang menggambarkan suasana serem, satir, nglangut.
Yaksa masih ingat betul karya itu dipamerkan di tahun 1990an, seketika dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta.
"Waktu itu menggambarkan lima ekor lele yang naik ke darat, berjalan di atasa pasir dan bergeser dari air ke darat," kenang Yaksa.
Kepergian VA Sudiro menyisakan kenangan para seniman. Tak sedikit rekan sesama seni yang membagikan momentum bersama VA Sudiro. Ada juga yang menanggapi sosok pelukis surealis itu.
Perupa Perempuan Jogjakarta Laila Tifah misalnya, dalam facebook pribadinya dia mengunggah momentum foto bersama dengan VA Sudiro.
"Dulu, pak Diro pelukis sering datang berdua dengan almarhum pelukis Suhadi, ngobrol lama bertiga dengan bapak. Pak Diro yang pendiam hampir tidak terdengar suaranya, beda dengan pak Suhadi yang pintar melawak dan meriah ketawanya berderai-derai," ungkap Tifah.
Tifah pun menceritakan terakhir bertemu dengan Diro di Galeri Nasional Jakarta pada 2016. Saat itu Diro menggelar pameran tunggal bertajuk "Samar Samar Semar Sudiro".
Kebersamaan dengan VA Sudiro juga diunggah Butet Kartaredjasa. Butet mengabadikan momen dengan foto bersama VA Sudiro sewaktu masih sehat.
"Musim gugur. Setelah Pak Djoko Pekik, Timbul Raharjo, salah satu pelukis tokoh surealisme Jogja, pak VA Sudiro berpulang sowan Gusti. Sugeng tindak pak Diro, sumangga Gusti," tulis Butet di akun facebook-nya. (mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva