JOGJA - Brigadir Yovita Riandhini merupakan sosok polisi wanita (Polwan) yang kenyang bertugas di daerah konflik. Dia pernah bertugas di Republik Afrika Tengah sebagai utusan Polri. Daerah tersebut merupakan kawasan yang rawan penuh konflik di dalam negerinya.
Setidaknya, Yovita menghabiskan waktu selama satu tahun di Afrika Tengah. Selama bertugas di sana, masyarakatnya menggunakan Bahasa Prancis sebagai bahasa utama. Oleh sebab itu, Yovita pun menjadi fasih berbahasa Prancis.
Bertugas di Afrika Tengah meski berbahaya karena rawan konflik menjadi penugasan yang berkesan baginya. "Bisa ikut bergabung dalam kancah internasional bersama dengan rekan-rekan dari FPU 3 Minusca di area misi yang berbahaya," ujar Yovita kepada Radar Jogja (17/7). Selama di Afrika Tengah dia selalu melakukan patroli selama 12 jam dalam sehari.
Sementara itu, fasihnya dalam berbahasa Prancis diawali dengan mengikuti les selama satu bulan. Setelahnya, secara otodidak kemampuan bahasa Prancis Yovita meningkat menjadi lebih mahir dari sebelumnya. Hal itu karena selama misi yang dijalaninya terus-terusan interaksi menggunakan bahasa Prancis.
Yovita menceritakan awal mula menjadi polisi karena dorongan dan arahan dari orang tua. Kondisi itu ditambah, dia lahir dari seorang keluarga polisi. "Kebetulan bapak saya pensiunan polisi dan kakak saya polisi, keluarga dari ibu juga banyak yang berprofesi sebagai polisi," ungkapnya.
Hingga akhirnya, lambat laun, semakin yakin untuk menjadi polisi. Saat awal menjadi Polwan, pertama kali ditugaskan di Ditsabhara Polda DIJ. Setelah itu, pada 2013-2015 BKO presenter NTMC Korlantas Polri. Akhirnya kembali lagi ke Polda DIJ tepatnya di Ditlantas.
Pada 2021 hingga 2022 itu lah bagian dari tugas yang berkesan bagi Yovita. Kala itu, menjadi bagian dari Peacekeepers Polri yang dikirim ke Misi Perdamaian Dunia di Republik Afrika Tengah sebagai anggota pasukan taktis Pleton Alpha FPU 3 Minusca.
"Sekarang, bertugas di Sihumas Polresta Jogja. Dan, saat ini sedang menunggu persiapan pelatihan IPO untuk dikirim ke misi Francophone di Afrika," ucapnya.
Menurutnya, menjadi Polwan banyak suka dan dukanya. Sukanya menjadi polisi karena tidak membatasi untuk belajar dan berkembang. Selain melaksanakan tugas dan tanggung jawab sehari-hari, masih bisa untuk menempuh pendidikan di luar kedinasan.
Duka menjadi polisi bagi Yovita hanya satu, yakni, waktu dengan keluarga menjadi sedikit, karena terbagi banyak untuk melaksanakan tugas sebagai Polwan. "Tapi, itu tidak menjadikan masalah, justru itu akan melatih saya untuk lebih baik dalam memanajemen waktu dan melatih saya untuk bertanggung jawab," tegasnya.
Dia berpesan kepada perempuan yang memilih karir sebagai Polwan jangan takut. Menurutnya, menjadi Polwan itu menyenangkan karena bisa menjelajahi banyak hal positif sesuai dengan potensi yang dimiliki. Tetapi, tentunya juga harus banyak berlatih dan belajar sungguh-sungguh. (cr3)
Editor : Amin Surachmad