JOGJA - Tahun baru Islam atau dikenal sebagai malam 1 Suro oleh masyarakat Jawa dimaknai sebagai sesuatu hal yang sangat sakral. Keraton Jogja memperingatinya dengan tradisi Mubeng Beteng dengan mengelilingi Beteng.
Tradisi ini sudah ada sejak ratusa tahun. Awalnya tradisi ini dilakukan oleh abdi dalem Keraton Jogja. Namun, sekarang bisa diikuti oleh masyarakat luas.
Selama pandemi Covid-19, tradisi Mubeng Beteng Keraton Jogja ditiadakan karena harus ada pembatasan. Tahun 2023 ini kembali diselenggarakan, pada Rabu malam (19/7/2023). Dimulai pukul 21.00 WIB di Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti.
Mubeng Benteng Keraton Jogja memiliki rute dimulai dari Keben (Kamandhungan Lor) - Ngabean - Pojok Beteng Kulon - Plekung Gading - Pojok Beteng Wetan - Jalan Ibu Ruswo - Alun-alun Utara - Kamandhungan Lor.
Mubeng Beteng dapat diikuti oleh masyarakat umum. Dalam tradisi ini, ada ritual tapa bisu yakni peserta kirab dilarang berbicara alias membisu. Selain itu peserta juga tidak boleh makan dan minum.
Tapa bisu atau membisu ini sebagai simbol intropeksi diri dalam menyambut tahun baru Islam. Intropeksi diri diperlukan agar manusia mengingat kembali apa yang sudah dilakukan setahun belakangan.
Hal-hal baik kemudian bisa ditingkatkan menjadi lebih baik. Begitu juga hal-hal buruk yang pernah dilakukan, bisa diperbaiki di tahun yang baru.
Prosesi ini terinspirasi oleh perjalanan hijrah Nubi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Perjalanan dari Mekkah ke Madinah dengan penuh keprihatinan dan perjuangan di tengah gurun pasir. Sebagai salah satu pengingat bagi masyarakat, bahwasanya dalam menyambut tahun baru sangat jauh dari hingar bingar perayaan. (lan)
Editor : Amin Surachmad