Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Bentuk Perlawanan Simbolik Raden Saleh

Wulan Yanuarwati • Selasa, 18 Juli 2023 | 06:39 WIB
NASIONALIS: Lukisan Raden Saleh Penangkapan Diponegoro. (Dok Kemdikbud)
NASIONALIS: Lukisan Raden Saleh Penangkapan Diponegoro. (Dok Kemdikbud)

JOGJA - Usulan pemindahan makam Pangeran Diponegoro oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menuai pro dan kontra. Raja Keraton Jogja Hamengku Buwono (HB) X tidak sepakat dengan usulan tersebut.

Meski begitu, Pangeran Diponegoro tetaplah Pahlawan Nasional yang dihargai banyak kalangan. Termasuk pelukis legendaris kelahiran Indonesia, Raden Saleh Syarif Bustaman atau biasa dikenal Raden Saleh.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro sebagai bentuk penghargaan seorang Raden Saleh kepada Pangeran Diponegoro, dibuat pada 1856. Sedangkan penangkapan Pangeran Diponegoro terjadi pada tahum 1830, Raden Saleh posisi tengah berada di Belanda saat itu.

Versi lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro dibuat untuk merespon lukisan yang dibuat oleh Nicolaas Pieneman. Sebagai perlawanan simbolik Raden Saleh. Sebab biar bagaimana pun, Raden Saleh ialah orang Jawa, dan nasionalisme tetap ada.

Maka lukisan yang dibuat berbeda versi dengan Pieneman yang menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan wajah sedih dan pasrah. Sementara, Raden Saleh menggambarkan Pangeran Diponegoro dengan raut wajah tegas, berani, dan menahan amarah.

Pieneman tidak pernah datang ke Hindia Belanda, maka dia menggambarkan pengikut Pangeran Diponegoro seperti orang Arab. Sedangkan Raden Saleh, secara detail menggambarkan blangkon dan kain batik pada beberapa pengikut Diponegoro.

Pieneman memberi judul lukisannya dengan 'Penyerahan Diri Diponegoro'. Sedangkan Raden Saleh memberi judul 'Penangkapan Diponegoro'. Bendera Belanda pada lukisan Pieneman juga tidak dilukiskan oleh Raden Saleh. Termasuk pengikut Diponegoro tergambarkan tidak ada yang membawa senjata apa pun di lukisan Raden Saleh.

Sketsa lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro dimulai pada 1856 dan diselesaikam setahun setelahnya. Kemudian Raden Saleh memberikan lukisan tersebut kepada Raja Belanda, Willem III.

Tujuannya, sebagai salah satu wujud perlawanan simbolik, dan menunjukkan pandangan yang berbeda atas penangkapan seorang pemimpin Jawa yang terkenal pemberani. Tidak seperti yang digambarkan oleh Nicolaas Pieneman.

Kemudian pada 1975, lukisan tersebut diserahkan kembali ke Indonesia oleh Kerajaan Belanda, sebagai realisasi perjanjian kebudayaan antara Indonesia-Belanda.

Sebelumnya, Raja Keraton Jogja Hamengku Buwono X merespons usulan Menhan Prabowo Subianto yang akan memindahkan makam Diponegoro ke tanah kelahirannya. Menurunnya, hal itu tidak diperlukan.

"Kalau saya, nggak usah," ujarnya, Jumat (4/7/2023).

Menurut ayah lima puteri ini, warga Makassar sangat menghargai makam tersebut. Dan merawat dengan baik, sehingga tidak perlu dipindahkan.

"Masyarakat di Makassar juga menjaga, saya kira tidak perlu harus diputar ke Jogja. Masyarakatnya menghargai (Pangeran Diponegoro) di sana," ujarnya.

Sementara itu, usulan pemindahan Makam Pangeran Diponegoro mencuat hari sebelumnya. Saat Menhan Prabowo Subianto berbicara pada Rakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), Kamis (14/7/2023) di Kota Makassar.

"Di sini, di kota ini (Makassar, red) juga ada makam Pangeran Diponegoro yang dibuang dari daerah asalnya. Dan, tidak ada salahnya kita berpikir apakah tidak di alam merdeka, tentunya dengan seizin rakyat Sulawesi Selatan, apakah tidak ada baiknya kita kembalikan makamnya Pangeran Diponegoro ke kampung halamannya lagi," jelas Prabowo.

Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785, anak dari Hamengku Buwono III. Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan Nasional, memimpin Perang Jawa periode tahun 1825 hingga 1830 melawan pemerintah Hindia Belanda.

Diketahui, Perang Jawa tercatat sebagai Perang yang besar dengan korban jiwa terbanyak dalam sejarah Indonesia. Yakni 7.000 serdadu pribumi, 8.000 serdadu Hindia Belanda, dan 200 ribu orang Jawa. Dengan kerugian mencapai 25 juta Gulden dan membuat ekonomi Belanda mengalami kerugian besar. (lan) 

Editor : Amin Surachmad
#Raden Saleh #perang jawa #Pangeran Diponegoro