Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sempat Ada Kendaraan Berhenti di Jembatan Kelor

Khairul Ma'arif • Sabtu, 15 Juli 2023 | 18:45 WIB
Warga melihat ke arah Sungai Bedog dari jembatan Kelor yang menjadi lokasi ditemukannya beberapa potongan tubuh manusia, di Desa Wisata Kelor, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman.
Warga melihat ke arah Sungai Bedog dari jembatan Kelor yang menjadi lokasi ditemukannya beberapa potongan tubuh manusia, di Desa Wisata Kelor, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Sleman.

RADAR JOGJA - Polisi masih berupaya mengidentifikasi penemuan potongan tubuh manusia di Kelor, Bangunkerto, Turi, Sleman. Identitas dan jenis kelaminnya saja bahkan belum diketahui. Kendati begitu, polisi berkeyakinan jika potongan tubuh yang ditemukan adalah korban mutilasi.


Kasat Reskrim Polresta Sleman Kompol Deni Irwansyah mengatakan, jika dari hasil penyelidikan sementara lokasi di Kelor hanya dijadikan sebagai tempat pembuangan. Hal itu berdasar karena Jembatan Kelor sering dilalui masyarakat. Lokasinya jauh dari lingkungan perkampungan warga.


"Kemungkinan besar di situ hanya lokasi pembuangan," katanya kepada wartawan Jumat (14/7/23). Namun soal kepastiannya perlu pendalaman lebih lanjut. Saat ini pencarian terhadap potongan tubuh lainnya kembali dilakukan sambil meminta keterangan dari warga sekitar.


Deni menyebut masih menyelidiki arah aliran sungai itu karena dinilai pembuangan dilakukan baru sekitar tiga hari sebelum ditemukan. Dia mengaku kesulitan melakukan identifikasi, karena hanya menemukan potongan-potongan tubuh yang kecil dan tidak utuh. Penyelidikan juga dibantu Polda DIJ untuk dapat mengungkap siapa sosok korban dan pelakunya.


Pencarian dilakukan di radius sekitaran TKP penemuan pertama, karena ada indikasi dibuang dengan modus yang sama. "Kemungkinan besar ini korban mutilasi," tambah Deni. Identifikasi melalui sidik jari juga mengalami kesulitan karena potongan tangan yang ditemukan dalam kondisi mengepal dan terendam air.


Deni menambahkan tidak ada ciri-ciri khusus dari potongan tubuh yang ditemukan. Tetapi dari hasil penglihatan, korban memiliki warna kulit putih atau kuning langsat.
Kondisi potongan itu juga belum dapat dipastikan sudah berapa lama sejak dimutilasi. Hal itu karena dari kedokteran forensik di RS Bhayangkara membutuhkan waktu identifikasi, karena kondisinya yang tidak utuh.


Selain itu, terkait penemuan usus juga belum dapat dipastikan kaitan dan asalnya. Namun dari temuan potongan tubuh dan usus ini dijadikan satu untuk diperiksa. Deni menyampaikan belum bisa bicara banyak terkait hasil dari temuan yang sudah ada.


"Nanti kedokteran forensik yang memang ahlinya menyampaikan itu. Kami menunggu informasi karena fokusnya ke pencarian dulu dan komunikasi dengan warga setempat yang mungkin melihat sesuatu kejanggalan di sekitaran lokasi," ungkapnya.
Sampai sekarang sudah ada empat orang saksi yang diperiksa. Termasuk tiga remaja yang hendak memancing sebagai penemu pertama.


Deni menjelaskan kini sedang diselidiki pengakuan warga yang menyebut ada kendaraan berhenti di lokasi kejadian sehari sebelum ditemukan. Sedang dilakukan pencocokan terhadap rekaman CCTV yang dimiliki. Dari situ nanti juga harus dicocokan waktunya dan jenis kendaraan yang diduga berhenti itu.


Terkait bukti rekaman CCTV sendiri juga sedikit jumlahnya. Deni menuturkan, hal itu karena kondisi jalan di sekitar lokasi penemuan yang bukan jalur utama sehingga sepi dilalui warga.


Para remaja yang menemukan masih berusia sekitaran 18 tahun ke bawah. Deni membeberkan para penemu awalnya cukup shock atas temuannya. Sehingga hal itu berdampak proses pemeriksaan yang tidak langsung dilakukan. Ketiganya mengira bukan potongan tubuh manusia, tetapi manekin.


Warga sekitar lokasi penemuan potongan tubuh korban mutilasi tidak ada yang kehilangan anggota keluarganya. Bahkan tidak ada juga yang anggota keluarganya pergi dari rumah dalam rentang waktu yang lama.
"Tidak ada warga Kelor yang kehilangan anggota keluarga atau pergi dalam waktu yang lama," ujar Dukuh Kelor Darmojo saat dihubungi Jumat (14/7/23). Dia menegaskan, korban yang ditemukan potongan tubuhnya di Kelor bukan bagian dari warganya.


Selain itu, Dukuh Kopen Dhono Setiawan juga menyebut tidak ada warganya yang kehilangan anggota keluarganya. Letak Padukuhan Kopen persis berbatasan langsung dengan Kelor. Artinya, antara Padukuhan Kopen dengan Kelor lokasinya saling berdekatan. (cr3/laz)

Editor : Satria Pradika
#mutilasi #Sleman #Polresta Sleman #potongan tubuh manusia #CCTV