JOGJA - Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengatakan pada akhir tahun 2023 target pengurangan sampah yang dibuang ke TPA Piyungan ialah 100 ton. Pelbagai cara diupayakan.
Metodenya, tidak hanya fokus pemilahan sampah anorganik saja. Namun juga melalui penguatan pada pengurangan sampah organik dan residu. Semua jenis sampah harus bisa dioptimalkan dan bermanfaat.
"Sampai dengan tengah tahun 2023, kontribusi serta peran dari seluruh pemangku kepentingan terutama bank sampah, berhasil mengurangi 87 ton sampah. Atau 30 persen dari total sampah yang bisa dibuang ke TPA Piyungan,” jelasnya Kamis (13/7/2023).
Pada Juni 2023, Pemkot Kota Jogja telah berhasil menekan volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan Bantul, mencapai 87 ton sehari. Sebelumnya sampah bisa ditekan kisaran 75 ton sehari.
Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh cuaca. Cuaca menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah volume sampah di Kota Jogja. Musim kemarau, sampah menjadi kering dan ringan. Sebaliknya, hujan menjadikan sampah basah dan berat.
Beberapa hari belakangan ini, kondisi cuaca di Kota Jogja tidak menentu, sesekali hujan. Ini berpengaruh pada volume sampah.
"Njih. Pasti itu (hujan berpengaruh pada volume sampah, red). Kalau yang berkait dengan alam kita tidak bisa melawan. Kita berupaya saja dengan memaksimalkan pemilahan," ujar Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko Kamis (13/7/2023).
Sejauh ini, pemilahan sampah anorganik sudah cukup efektif di Kota Jogja. Sedangkan untuk sampah organik dan berpotensi menyerap air hujan, saat ini terus diupayakan untuk ditekan.
Kota Jogja bekerja sama dengan peternak di Bantul untuk sampah hasil pangkas pohon yang dilakukan rutin oleh DLH Kota Jogja. Sampah hasil pangkas pohon di Kota Jogja bisa mencapai 2-3 ton sehari, bermanfaat bagi ternak. Di sisi lain mengurangi tumpukan sampah.
"Kalau kemarin yang pakan ternak dari rampasan pohon, untuk yang dari rumah tangga untuk maggot," ujarnya.
Pada setiap Kemantren sudah ada yang memilah dan mengumpulkan sampah yang dijadikan maggot. Meski begitu belum optimal dan perlu untuk terus didorong. Haryoko menyebut ada banyak alternatif untuk optimalisasi sampah organik.
"Kalau memang geli dengan maggot, kita mendorong masyarakat menggunakan biopori atau losida," imbuhnya.
Lebih lanjut, hal yang tak kalah penting ialah antisipasi saat hujan terjadi. Sampah harus dikendalikan dengan baik, agar tidak menambah volume sampah. Haryoko menghimbau warga agar bijak terhadap kondisi tersebut.
"Agar sampah tetap kering maka tempat sampah di masing-masing rumah tangga harus dalam kondisi ada tutupnya sehingga air hujan tidak masuk," ujarnya. (lan)
Editor : Amin Surachmad